Lompat ke isi

Sumpah Seorang Pembersih Jalan

Kumpulan Kisah tentang Sufi

Kota itu tak pernah tidur. Siang hari jalanannya macet total, trotoarnya berdenyut oleh kerumunan orang yang berdesakan, dan malam harinya bergemuruh dengan neon, musik, dan derap tubuh yang gelisah.

Namun ketika bar-bar tutup dan tawa mereda, keheningan pun menyelimuti—kecuali derit sapu.
Ia selalu ada di sana, sang pembersih jalan. Seorang pria biasa, berjanggut putih, selalu tersenyum. Setiap malam ia mendorong sapunya menyusuri jalan panjang, menyapu sampah menjadi tumpukan-tumpukan kecil dan membawanya ke tempat sampah di sudut jalan.

Tidak seorang pun tahu kapan ia mulai. Bagi kebanyakan orang, itu hanya bagian dari latar belakang seperti tiang lampu atau toko-toko yang tutup. Tetapi bagi mereka yang memperhatikan, ia adalah orang dengan kegigihan yang aneh.

Kota itu menghasilkan lebih banyak sampah daripada yang bisa disapu oleh satu orang.
Setiap malam, tumpukan sampah baru menggantikan tumpukan sampah yang telah ia bersihkan. Pekerjaan itu tak ada habisnya, dan bagi banyak orang itu tampak sia-sia. Tetangga bercanda tentangnya. Orang yang lewat mengejeknya: "Untuk apa menyapu? Truk sampah akan datang juga." Bahkan para pemilik toko, yang diam-diam mendapat manfaat dari usahanya, menggelengkan kepala dan bergumam, "Dia pasti gila." Tetapi pria itu tidak pernah menjawab. Sapunya bergerak dengan mantap, setia, seolah-olah setiap botol, setiap bungkus, setiap puntung rokok adalah penting semua.

Suatu malam, seorang pejalan kaki berhenti. Ia seorang pemuda yang sedang berjalan pulang, dan ia tersentuh oleh dedikasi petugas kebersihan yang tenang. Ia bertanya: "Mengapa kau menyia-nyiakan dirimu untuk ini? Tidakkah kau lihat, ini sia-sia? Kau bisa menyapu selama seribu tahun dan jalanan takkan pernah bersih. Kota ini akan menguburmu di tempat sampah jauh sebelum kau menang." Petugas kebersihan itu berhenti sejenak. Ia bersandar pada sapunya dan berkata: "Kau lihat sampah. Aku lihat sebuah sumpah. Ada satu yang kucintai. Dia berkata padaku: 'Jika kau bisa membuat jalan yang cukup bersih untuk kulalui tanpa tersandung, aku akan datang padamu.' Aku sudah berjanji kepadanya. Aku bersumpah akan melakukan apa yang dia minta. Dan aku tidak akan berbohong ataupun berdusta dalam cinta. Jadi aku menyapu, malam demi malam. Jika suatu hari jalan itu bersih, dia akan kembali". Apabila kematian datang terlebih dahulu, biarlah datang. Paling tidak aku akan mati dalam sumpahku."

Terkadang, meskipun tak seorang pun memperhatikan, pria itu berhenti dan memandang ke ujung jalan. Dan di sana, di tempat cahaya lampu menghilang dalam kegelapan, ia merasa telah melihatnya. Sesosok yang menunggu di ujung jalan, diam dan sabar, seolah-olah ia akan melangkah maju jika saja jalan itu bersih.

Orang-orang menyebutnya bodoh, orang yang terbuang sia-sia. Namun, ia tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui: bahwa cinta bukanlah tentang kemenangan, bukan tentang kesuksesan, melainkan tentang pengabdian.

Pengkhianatan terhadap sumpahnya berarti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Dan ia tetap begitu—sosok penyendiri dengan sapu terbang, kekasihnya selamanya tak menentu, sumpahnya tak tergoyahkan.

Dalam jerih payahnya yang tak berujung dan mustahil, ia mengungkapkan apa yang tak dapat dilihat orang lain: bahwa pengabdian itu sendiri, yang tak ternoda oleh hasil, adalah bentuk cinta yang paling murni.