Lompat ke isi

Halaman Keterangan

Halaman Keterangan

Kata-kata Rahasia dalam Puisi Spiritual dalam Sufisme

Sajak spiritual dalam buku ini menggunakan kata-kata simbol yang menjadi ciri khas sajak spiritual dalam Sufisme. Apabila dibaca tanpa mengetahui arti simbol dalam kata-kata kunci yang digunakan dalam setiap sajak atau puisi spiritual ini, maka kita akan menemukan seolah-olah kita membaca puisi karangan pemabuk yang sedang mabuk berat sehingga hilang kesadaran akan keadaan sekitarnya. Itulah persepsi pertama yang kita dapat saat membaca puisi spiritual dalam Sufisme. Dengan persepsi tersebut, kita hanya sampai pada pemahaman lahiriah, atau sebagaimana apa adanya yang terbaca.

Namun itulah gambaran yang sebenarnya keadaan batin para Sufi pemabuk cinta: keadaan saat sedang dalam kemanunggalan rasa yang indahnya luar biasa sehingga para Sufi kehilangan kesadarannya, di mana keadaan itu hampir tidak mungkin untuk digambarkan.

Dengan menggunakan kata-kata yang digunakan sehari-hari sebagai lambang-lambang yang menggambarkan pengalaman batin saat sakral para Sufi, maka pengalaman batin itu bisa dibagikan kepada para Sufi lainnya. Hal ini juga merupakan suatu referensi dan pedoman dalam perjalanan spiritual.

Buku ini menggambarkan pengalaman spiritual sang penulis dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai seorang pemabuk cinta: kasmaran kepada Sang Yang Penciptanya. Sebagaimana disebutkan di atas, penggunaan simbol melalui kata-kata sehari-hari yang kita gunakan diperlukan untuk mempermudah penyampaian pengalaman batin yang dialami para Sufi dalam perjalanan cinta spiritual mereka. Demikian pula dalam kumpulan puisi spiritual Asmarandana ini.

Ada beberapa kata rahasia yang menjadi kunci pembuka untuk bisa memahami dan mengerti arti sebenarnya dari kumpulan puisi spiritual dalam buku ini. Dengan memahami kata-kata rahasia yang disamarkan dengan kata-kata yang biasa kita pergunakan dalam percakapan sehari-hari, maka kita akan bisa mengerti isi sebenarnya puisi-puisi spiritual karangan Dr. Alireza Nurbakhsh dalam kumpulan puisi spiritual Asmarandana.

Di sini akan kami sampaikan beberapa kata rahasia yang merupakan simbol belaka. Kata-kata ini mengandung arti lain yang merupakan kata rahasia yang menjadi kunci dalam membaca sajak spiritual dalam Sufisme.

Mengingat kesakralan setiap puisi spiritual dalam Sufisme, terutama dalam kumpulan puisi yang tercantum dalam buku ini, maka untuk bisa mendalami arti sebenarnya yang dikandung dalam puisi spiritual dalam buku ini, ketajaman indra dan kehalusan perasaan serta kebersihan hati nurani menjadi syarat utama dalam membaca puisi spiritual dalam Sufisme, terutama dalam kumpulan puisi spiritual Asmarandana ini.

Kata-kata rahasia dalam sajak spiritual di dalam Sufisme di antaranya sebagai berikut:

  1. Kedai Minum — Tempat pertemuan para Sufi untuk melakukan ibadah bersama dan belajar bersama. Kegiatan yang dilakukan di antaranya meditasi, doa bersama, serta pengkajian moral dan spiritual sehari-hari. Dalam bahasa Parsi tempat ini disebut Khaniqah. Dalam bahasa Jawa disebut padepokan atau perguruan.
  2. Anggur Merah — Cinta sakral yang datangnya dari Tuhan yang Maha Sakral, sehingga siapa pun yang meminumnya akan mabuk cinta dan hilang kesadarannya.
  3. Saqi (Penyaji Anggur) — Guru spiritual. Hanya Saqi, sang penyaji anggur, yang mampu membantu para Sufi untuk tetap lumintu atau terus-menerus menjalani laku spiritual selama hidupnya. Karena guru dan pemandu spiritual yang sejati akan selalu meluruskan perjalanan spiritual yang dilakukan para Sufi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menjaga selalu menjalani kehidupan dalam jalan kebenaran di bawah petunjuk sang guru dan pemandu spiritual, maka cinta sakral akan terus tetap membara dalam hati para Sufi.
  4. Rambut Panjang Ikal — Cobaan yang datang dalam kehidupan sehari-hari yang melambangkan keanekaragaman dan kerumitan dalam kehidupan, sehingga perlunya mencari Yang Maha Tunggal untuk mencapai kebahagiaan abadi.
  5. Lirikan Mata — Saat Tuhan berkehendak, tiada satu pun yang mampu menolak.
  6. Alis yang Melengkung seperti Busur Panah — Melambangkan keindahan yang terbentang di setiap waktu dan tempat yang dapat dilihat dengan panca indra.
  7. Yang Maha Terkasih — Melambangkan Tuhan itu sendiri.
  8. Bunga Mawar Merah — Melambangkan kesempurnaan keindahan cinta sakral.
  9. Burung Nightingale — Melambangkan kerinduan yang dirasakan dalam jiwa para Sufi.
  10. Kaca — Melambangkan nurani para Sufi pelaku perjalanan spiritual.
  11. Gelas dan Cangkir — Melambangkan hati para Sufi.