Suara Sapi dalam Pikiran
Winona tinggal di pinggir kota, di sebuah kabin di tempat di mana hutan bertemu dengan sungai. Orang-orang bilang dia adalah orang yang aneh. Dia membuat perhiasan perak, jarang bicara, dan terkadang duduk berjam-jam di tepi air tanpa bergerak.
Anak-anak berbisik bahwa dia bisa berbicara dengan binatang. Orang dewasa lebih suka menyebutnya eksentrik—tidak berbahaya, meski agak tidak biasa sebagaimana orang umum bersikap.
Ketika seseorang dari Lingkaran Meditasi "Still Waters" (Air Tenang) mengundangnya untuk bergabung dengan sesi Minggu mereka, ia hanya tersenyum.
"Sangat membantu," kata wanita dari "Still Water" yang duduk bersama seorang pemandu. "Guru kami, Maya, telah mencapai ketenangan yang luar biasa." Katanya lagi.
Minggu itu, Winona muncul di tengah para peserta meditasi "Still Water". Bertelanjang kaki, rambutnya diikat longgar. Ruangan itu hangat dengan cahaya lilin, dan aroma bunga lavender mengisi udara. Kelompok itu duduk mengelilingi Maya, yang sikapnya tenang serta tampak percaya diri. Seperti seseorang yang telah lama dihormati oleh orang lain.
"Tutup matamu," kata Maya lembut. "Tarik napas... tahan... dan lepaskan. Rasakan keheningan di dalam kehampaan total." Kata-katanya melayang bagai lagu pengantar tidur di seberang ruangan.
Untuk sesaat, hanya terdengar suara napas samar-samar, dengungan lembut ventilasi udara, dan derit lantai.
Tiba-tiba Winona membuka mulutnya dan menghembuskan napas pelan, sambil berkata: "Moooooo" dengan mata terbelalak.
Seseorang terkesiap. Bahu Maya menegang, ketenangannya buyar. Namun dia mencoba menahan terus tetap bermeditasi agak cukup lama. Agar semua orang bisa merasakan ketenangan yang dicari.
Ketika sesi berakhir, seorang pria menyerang Winona. "Kenapa kau lakukan itu? Kau merusak seluruh meditasimu."
Suara Winona terdengar lembut saat berkata "Aku hanya mengulang apa yang kudengar." Sambil menatap langsung ke arah Maya.
"Kau bicara tentang ketenangan, tapi pikiranmu melayang di padang rumput. Kau sedang memikirkan seekor sapi." Kembali kata Winona dengan lembut.
Kelompok itu tertawa, malu. Wajah Maya memerah.
"Itu konyol. Tidak mungkin."
Winona mengangkat bahu sambil berkata. "Ketika pikiran mengembara, keheningan pun ikut mengembara."
Semua diam dan tak seorang pun menjawab.
Namun malam itu, sendirian di apartemennya, Maya teringat—sapi yang dilihatnya di jalan masuk pagi itu. Kibasan ekornya yang malas, dan rasa nyaman yang aneh yang ditimbulkannya. Ia telah membawa ingatan tentang sapi itu ke lorong pikirannya tanpa menyadarinya.
Minggu berikutnya, sebelum memimpin meditasi, Maya menundukkan kepalanya ke tempat kosong di mana Winona duduk minggu lalu. Sebagai rasa hormat dan penghargaan akan kemampuan batinnya.
"Ayo kita mulai," katanya pelan. "Dan kalau ada sapi yang terlintas di pikiranmu, biarkan dia lewat sebelum kau menutup gerbang."