Penari yang Mempesona
Pada tahun 1960-an ketika jiwa-jiwa gelisah orang Amerika menengok ke Arah Timur (Timur Tengah dan Asia) untuk mencari arti kehidupan, Alex, seorang penari dari Iowa, memusatkan perhatiannya pada dunia mistik kuno.
Ia masih segar lulus dari Juilliard. Juilliard adalah sebuah akademi Seni Drama paling terkenal dan terhormat di New York, Amerika Serikat. Dan Alex merindukan yang lebih dari tepukan tangan dan penataan tari. Ia menginginkan "wahyu".
Istanbul adalah gerbang awal perjalanannya. Kemudian dia membayangkan ke Iran, lebih jauh lagi ke Afghanistan lalu ke India - tempat-tempat dimana nama nama tersebut gemerlap di dunia mistik dengan janji janji indah.
Malam pertama di kota Istanbul, Alex berjalan-jalan di Pasar Besar Istanbul yang udaranya beraroma rempah rempah dan bayangan masjid masa lalu dengan suara adzan bergema di sepanjang gang gang pasar besar itu.
Pada suatu sore, Ia menghadiri upacara Mehlevi, dia berharap akan menyaksikan suatu pertunjukan aneh dan asing baginya, namun apa yang dilihat sangat mengejutkan dirinya hingga ke tulang sumsum.
Gerakan berputar para Dervish bukanlah suatu pertunjukan, namun adalah sebuah doa. Bukan suatu tontonan namun suatu "penyerahan diri dan keikhlasan". Suara dari suling mengisi ruangan bagaikan nafas dari dunia lain. Pada setiap putaran gerakan tari, Alex melihat sekilas keabadian. Tatanan tariannya tidak lagi berbentuk, namun menjadi jalan menuju ketidakterbatasan. Bertekad untuk mempelajari tarian lebih lanjut, Alex mencari tahu tentang para Dervish penari dan minta untuk bisa ikut mereka untuk belajar menari.
Para Dervish akhirnya membawa Alex ke tempat mereka tinggal yang disebut "Tekke" di Turki, dan menghadap Sheikh.
"Jalan ini bukan tentang menari. Namun tentang "Tuhan" dan tentang "Pengabdian"." Kata Sheikh saat Alex berdiri di depannya. Penuh keinginan untuk mengetahui lebih lanjut Alex menyatakan kesediaannya untuk mematuhi segala peraturan.
Sheikh, pemimpin Tekke tersebut menerima Alex sebagai muridnya dan menerangkan tentang makna jubah yang dipakai. Jas warna hitam yang melambangkan keterikatan pada dunia yang harus ditinggalkan, sedangkan rok warna putih bermakna untuk pembalut egoisme atau pembalut pemusatan pada kepentingan diri sendiri, topi yang tinggi melambangkan batu nisan kita sendiri, dan gerakan "berputar" dalam tarian Sufi adalah bermakna "Sufi sudah meninggalkan dunia fana, sebelum kematian itu datang padanya".
Namun hati Alex belum siap untuk mati.. Ia mempelajari teknik-teknik tarian Sufi, namun menolak untuk rendah diri. Bangun pagi-pagi memasak sarapan untuk para Dervish, saudara seperguruannya di Tekke terasa sangat membosankan. Alex merasa bahwa mencuci piring dan membersihkan dapur adalah suatu pekerjaan yang hina baginya yang merupakan penari terkenal di New York. Walaupun demikian ia tetap diam. Tetapi dalam hatinya tetap berkata "Aku lahir untuk menjadi penari di setiap panggung pertunjukan dan bukan bekerja di dapur".
Dalam beberapa bulan Alex telah menguasai semua teknik tarian "Whirling Dervish", Badannya berputar dengan sempurna, putaran baliknya sangat indah, kekuatan dan ketahanan tubuhnya tidak ada yang menandingi.
Para penonton terpesona melihatnya saat penampilannya di upacara untuk umum. Namun saat ia berdiri dengan sapu di tangan dan tangannya menyangga baki makanan, kegelisahannya semakin memuncak. Dia merindukan pengakuan dan kemasyuran, bukan ketidakjelasan. Akhirnya dia meninggalkan perkumpulan Sufi itu dengan alasan adanya kepentingan keluarga yang harus dihadiri.
Sheikh melepaskan Alex dengan pesan bahwa "Ketika engkau menari berputar, biarkanlah hatimu menjadi "Pusat". Hanya dengan demikian maka putaranmu dapat memeluk seluruh ciptaan di dunia dengan cinta". Ingatlah bahwa Pengabdian adalah akar dari cinta. Dan tanpa cinta tarian Sufi kosong tanpa Jiwa.
Sekembalinya ke New York, Alex mementaskan "Sufi Dance The Whirling Dervish", "Tarian Sufi Dervish yang Berputar", penonton pun terpesona dan kritikus memujinya sebagai penari Sufi yang mengagumkan. Ketenarannya melambung ke angkasa, namun lingkarannya kosong dan gerakannya tanpa arah. Tepuk tangan yang meriah di teater, tidak mampu menggemakan keheningan Tekke.
Setelah pementasan tarian Sufi selesai, dalam acara Tanya Jawab, seorang laki-laki tua berdiri dan bertanya "Katakanlah, di mana engkau mempelajari tarian Sufi yang engkau pentaskan tadi ?", katanya.
"Di Istanbul", jawab Alex dengan bangga. "Tarian Whirling Dervish ini saya pelajari selama tiga bulan. Dan aku berhasil menguasai teknik-teknik tariannya dengan sempurna", kembali Alex menjawab.
"Sufi bukanlah suatu cara untuk menguasai teknik, namun menyerahkan diri kepada Kebenaran. Tarian Sufi atau "Whirling Dervish" adalah tarian untuk menghilangkan jati diri kita sendiri dan menyerahkan diri kepada Kebenaran Sejati". "Ketika engkau berputar, engkau mengangkat tangan kananmu ke atas, itu untuk menerima berkah dan anugrah dari Tuhan yang Maha Agung. Tangan kirimu menunjuk ke bawah: Bumi, ini untuk menyampaikan berkah dan anugrah untuk semua ciptaan". "Anugrah dan berkah apa yang telah engkau berikan selama ini ?" Kata orang tua itu kembali.
Beberapa saat Alex tersendat. Ia tertawa sinis dan menjawab "Bagiku yang paling penting adalah menguasai tarian Sufi Whirling Dervish. Sisanya - memberi makan orang miskin, menjadi pelayan di dapur semua adalah tidak bermakna. Hidupku terlalu berharga untuk melakukan itu semua".
Mendengar kata-kata Alex, tiba-tiba aula pertunjukan itu menjadi sunyi. Penonton melihat kejadian itu sebagai yang diceritakan oleh Rumi : Tentang Serigala yang masuk ke tong cat.
Terbungkus dalam warna pinjaman, serigala itu berdiri dengan bangganya di antara para binatang. Seakan-akan dirinya telah berubah menjadi seekor burung Merak.
Namun ketika ia membuka mulut bersuara, yang keluar dan yang terdengar adalah raungan serigala.
Sama dengan Alex, tariannya menakjubkan siapapun yang melihatnya, namun hatinya tetap tidak tersentuh. Dan para penonton mengerti bahwa, walaupun tariannya adalah Whirling Dervish, namun tarian itu hanya sebuah sajian pertunjukan pentas belaka yang tidak mengandung makna apapun. Bagaikan gambar sebuah lingkaran yang kosong di tengahnya.