Lompat ke isi

Kisah tentang Pelajaran Cinta Sejati

Kumpulan Kisah tentang Sufi

Kisah tentang seorang pengasih yang mengajarkan tentang "Cinta sejati", yaitu cinta suci murni yang tak bersyarat kepada para kekasih.

Pada suatu hari, yang belum lama berlalu, ada seorang pria, seorang pecinta sejati, dan juga seorang pelayan kemanusiaan. Dia adalah seorang dokter yang mumpuni dan penuh pengabdian terhadap tugasnya.

Melayani seluruh warga masyarakat siang dan malam tanpa pamrih. Dan mengobati segala penyakit tanpa mengharapkan imbalan dari pasiennya dan tidak pula untuk mencari nafkah untuk dirinya. Dia adalah seorang dokter yang sejati yang melayani dengan seluruh jiwa raganya. Dia menyembuhkan segala penyakit dan segala kelainan, tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun juga. Hidupnya adalah untuk melayani kemanusiaan, dan bukan untuk mencari keuntungan pribadi.

Pada suatu hari, datang seseorang yang sangat kekurangan dan papa dalam hidupnya. Dikucilkan oleh semua orang. Ditolak oleh dunia dan akhirat. Tetapi dokter yang pengasih tersebut merawat dan mengobati penyakit orang miskin yang terkucilkan itu, dengan ramuan obat-obatan yang akhirnya bisa menyembuhkan penyakit badan dan hatinya.

Setelah terobati, si miskin yang papa tersebut pulang kembali ke rumahnya, dan dalam perjalanan pulang hatinya dipenuhi dengan perasaan cinta yang luar biasa kepada dokter yang telah mengobatinya. Ketika tiba di rumah, dia merasakan cinta yang tiada tara dalam hatinya kepada dokter yang pengasih itu. Karena tidak bisa menahan kegelisahan hatinya lagi, si miskin yang telah terobati tersebut lari kembali secepatnya untuk menemui dokter yang telah menyembuhkannya.

Si miskin menemukan dokter itu sedang berada di ruangan pribadinya. Dia mengatakan kepada dokter yang penuh kasih sayang itu bahwa dia telah jatuh cinta.

"Hamba jatuh cinta kepada perangaimu. Oh engkau yang sangat beruntung. Gandenglah tangan hamba dan berkenanlah kiranya untuk menjadi pemandu hamba. Hamba ingin menjadi manusia seutuhnya dan bukan manusia yang mementingkan diri sendiri."

Orang miskin yang telah terobati tersebut selanjutnya tinggal dan bekerja bersama dokter yang pengasih itu dalam ketenteraman beberapa saat, karena sang dokter telah menganggap orang miskin yang papa tersebut menjadi teman terkasihnya.

Hingga pada suatu hari dokter yang pengasih mengatakan kepada temannya itu bahwa dia bukan pecinta yang sejati, karena cintanya hanya di lahir saja dan tidak merasuk dalam hatinya. Beberapa hari berlalu dengan tenteram, hanya berakhir saat dokter yang pengasih itu ingin menguji kedalaman cinta temannya tersebut.

Dokter pengasih ini mengatakan bahwa temannya itu adalah pecinta sebatas lahiriah dan cintanya tidak sampai ke kedalaman batiniah. Cinta seperti itu adalah cinta yang mementingkan diri sendiri dan menguntungkan diri sendiri, karena didorong oleh nafsu untuk mencari kepentingan diri sendiri. Cintanya muncul karena adanya keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Cinta dari kekasih yang sempurna adalah cinta yang tiada bersyarat kepada kekasihnya. Bagaimana mungkin orang yang malas dan manja memahami tentang "Cinta dari Sang Yang Pencinta"?

Dengan berair mata, orang miskin yang mengaku sebagai pecinta menjawab bahwa cintanya adalah cinta tulus ikhlas lahir dan batin. Setelah kejadian itu, hari kembali berlalu dengan tenteram.

Sampai dengan saat dokter yang pengasih itu memberikan cobaan terhadap pecintanya yang papa itu. Sejak bertemu hingga saat itu, dia tidak pernah mengatakan siapa dirinya dan tidak membuka jati dirinya. Dia tidak pernah memperlihatkan siapa dirinya, maupun menampakkan apa yang ada di dalam hatinya, dari mana asal-usulnya serta watak yang dimiliki sebenarnya. Pecinta yang miskin itu sepertinya sangat mencintai dokter yang pengasih itu. Tetapi dalam kenyataannya, dia jatuh cinta kepada khayalannya sendiri tentang dokter yang mengobatinya itu, dan bukan jati diri dokter itu sendiri.

Selanjutnya, guna mengetahui kekurangan dan kelemahan cinta yang dikatakan hanya untuk dirinya, dokter penolong yang pengasih itu melakukan cobaan kepada pecintanya. Pertama, dengan menunjukkan sikap yang berlawanan terhadap apapun keinginan dan harapan pecintanya, demi mencari dan mengetahui kelemahan dan kekurangan cinta dari pecintanya. Kedua, apapun yang dikatakan oleh pecintanya, dokter penolong itu selalu menantang dan melawan. Bahkan dia tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan, diinginkan dan diharapkan oleh pecintanya. Pada suatu saat dia mencaci pecintanya dengan kata-kata penghinaan di depan umum. Di lain waktu sang dokter mengabaikan pecintanya dan menghindarinya sama sekali.

Perlahan-lahan pecinta yang papa ini kehilangan hasrat keinginan dan bersikap dingin terhadap dokter penolongnya. Pecinta yang papa ini semakin hari berubah menjadi pucat dan hatinya dipenuhi dengan kepedihan. Dia menyangka bahwa dokter penolongnya akan menghabisi nyawanya. Apabila demikian, bagaimana mungkin pertemanan akan bisa dilanjutkan? Akhirnya, pecinta yang papa itu memutuskan bahwa tiba saatnya untuk meninggalkan dokter penolongnya dan pulang kembali ke rumahnya, kembali kepada kesepiannya sendiri. Kemudian dia mengepak barangnya dan pergi tanpa meninggalkan pesan dan tanpa pamit.

Walaupun dokter penolong itu tahu akan perubahan sikap pecintanya yang menjadi pemurung, menarik diri, serta dingin, namun dia selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga pecinta yang ditolongnya itu diberi anugrah cinta yang sejati.

Beberapa bulan telah berlalu sejak perpisahan antara pria yang malang dan penolongnya, tidak ada berita apapun darinya. Pada suatu hari, orang yang papa dan malang itu tiba-tiba jatuh sakit, terkapar di atas lantai menangis dalam kesedihan. Dan tak ada seorangpun merawatnya.

Dokter yang ditinggalkan pria malang itu mendapat berita tentang penyakitnya. Karena kemurahan hatinya, dokter pengasih itu dengan tergesa-gesa melakukan perjalanan untuk menjemput temannya itu. Temannya yang malang itu dibawa pulang ke rumahnya untuk dirawat dalam duka dan larannya.

Dokter terkasih itu merawat temannya yang malang beberapa tahun lamanya dan selalu menjaga di sampingnya meskipun dia sangat sibuk dengan beban pekerjaan sehari-harinya. Dalam perawatannya, orang yang malang yang sedang sakit itu terus-menerus mencaci maki dan menyumpahi dokter yang telah merawat dan menyembuhkannya itu. Walaupun demikian, dokter yang pengasih itu tetap merawat dan menjaganya siang dan malam di sampingnya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Hingga pada suatu hari, saat sedang mengerang kesakitan, orang yang papa itu terjatuh dan luka parah. Dan waktunya habis untuk orang yang malang itu. Ajal menjemputnya.

Pada saat nyawanya meregang, dia membuka matanya dan melihat dokter yang pernah dicintainya duduk di samping tempat tidurnya.

"Bagaimana keadaanmu, temanku?" tanya dokter yang pengasih itu kepada orang yang papa itu.

"Hamba tidak ingin yang lainnya, hamba hanya ingin dirimu," jawab orang miskin papa yang sedang meregang nyawa itu. "Engkau telah mengajariku tentang cinta yang tanpa bersyarat. Dan yang telah menyalakan cahaya untukku yang dalam kegelapan."

Setelah mengatakan itu, orang yang papa itu menghembuskan nafasnya yang penghabisan dengan penuh kebahagiaan. Dan berjalan menuju api cinta didampingi oleh teman terkasihnya di sampingnya.