Ibunda Parvaneh
Ibundaku, Parvaneh, baru berumur dua tahun saat ayahandanya wafat. Ibundanya, atau nenekku, berasal dari keluarga yang mempunyai hubungan sangat dekat dan berakar dengan Tarekat Tasawuf Nimatullahi. Dan Ibunda Parvaneh menjalani masa kecilnya hingga remaja di bawah asuhan yang terhormat Sheikh Munis.
Beliau, Sheikh Munis, yang wafat pada tahun 1953, selalu memanggil Parvaneh dengan nama kesayangannya yaitu Daneshvar. Nama yang akhirnya terus dipakai, sebagai suatu pengingat akan asal-usulnya.
Setelah menyelesaikan Sekolah Tingkat Atas, Ibuku Parvaneh menjadi guru setingkat Sekolah Dasar di Shiraz, Iran. Beliau masih sangat remaja, belum mencapai dua puluh tahun, saat Ayahandaku Dr. Javad Nurbakhsh ditunjuk sebagai Guru dan Sheikh pada Tarekat Tasawuf Nimatullahi. Beliau baru berumur dua puluh tujuh tahun saat itu. Dan pada saat yang sama beliau mengabdi sebagai dokter di sebuah rumah sakit yang terletak di Bam, Iran.
Mereka bertemu kembali saat memperingati 40 hari wafatnya almarhum Sheikh Munis yang terhormat. Pertemuan itu menandai tumbuhnya ikatan yang kuat dan dilanjutkan dengan pernikahan yang berlangsung hingga lebih dari lima puluh tahun. Perkawinan itu tidak sepenuhnya sebagai suatu kesatuan hidup bersama dari dua orang saja, namun juga sebuah tanggung jawab dan janji bersama kepada suatu perjalanan spiritual yang menghendaki pengabdian dan pengorbanan.
Pada akhirnya Ibunda Parvaneh mengundurkan diri dari profesinya sebagai guru, agar bisa membesarkan dan mengasuh putra-putrinya. Di samping itu, beliau juga berperan sebagai tuan rumah dalam menerima dan menjamu para tamu yang datang tanpa henti ke Khanigah dari seluruh dunia. Para tamu itu adalah mereka para pencari kebenaran sejati. Ibunda Parvaneh melayani tanpa lelah dan terus-menerus disertai harapan. Inilah kualitas kepribadian yang membuat siapa dirinya. Ketika ada seseorang sedang dalam kebimbangan, beliau memberikan harapan. Dari kata-kata dan tindakannya, beliau adalah perwujudan dari ketegaran dan keteguhan yang tidak tergoyahkan, dan tanpa ragu-ragu dalam tindakannya.
Cobaan yang paling berat adalah cobaan dalam hati. Beliau harus menyaksikan cinta suaminya dibagi dengan orang banyak, yaitu yang diberikan kepada para pengikutnya. Karena sebagai seorang Guru spiritual dan Sheikh, Ayahanda Dr. Javad Nurbakhsh adalah juga milik para Dervish dan Sufi yang mencari perhatian dan kasih sayangnya. Pada awalnya, sangatlah sulit untuk menerima kenyataan itu. Seiring dengan waktu, Ibunda Parvaneh menemukan cara melihat cinta dari sisi yang lain: bahwa cinta tidak menghilang saat dibagi-bagi untuk kebaikan, namun semakin menjadi berlipat ganda keberadaannya.
Saat itu, ada Bapak Khobari yang bertanggung jawab pada kegiatan Khanigah di Teheran. Beliau merupakan seseorang yang penting bagi Ibunda Parvaneh dalam menyadari keberadaan dan fungsi cinta pada Ayahanda Dr. Javad Nurbakhsh. Menyaksikan kesibukan dan kelelahan yang diderita Ibunda Parvaneh dalam melayani tamu yang tiada henti, Bapak Khobari sering mengirim anggota keluarganya untuk membantu melayani tamu, sehingga bisa ikut mengurangi beban kesibukan yang harus dilakukan oleh Ibunda Parvaneh di Khanigah.
Dari bantuan tenaga ini muncullah ikatan saling menghormati. Melalui Bapak Khobari, Ibunda Parvaneh belajar bahwa cinta dan pelayanan adalah bagaikan sebuah sungai: semakin berkembang, semakin besar arusnya, semakin lancar alirannya.
Tahun-tahun kehidupan selanjutnya, terutama sejak tinggal di United Kingdom atau Inggris Raya selama empat puluh tahun terakhir ini, Ibunda Parvaneh selalu ingat bahwa dirinya tidaklah hanya sebagai seorang istri dari Dr. Javad Nurbakhsh, Sheikh serta Guru spiritual Tarekat Tasawuf Nimatullahi, namun juga seorang pribadi yang memiliki kehadiran tersendiri dalam Khanigah.
Para tamu Khanigah berbicara tentang senyumnya yang meringankan beban mereka, kesabarannya dan ketenangannya, serta kelembutannya dalam memberikan dorongan semangat dan nasihat yang mengingatkan kita semua untuk tidak khawatir, karena semua akan berakhir dengan baik.
Ayahanda Dr. Javad Nurbakhsh suatu kali menyatakan tentang keteguhan dan ketegaran bahwa "Keteguhan dan ketegaran cinta kepada Tuhan di dalam jiwa seorang sufi adalah: apabila tidak ada sesuatu apapun yang mampu melekukkan sekecil apapun kejujuran di dalam hati Sufi kepada Tuhannya. Sedangkan ketegaran Sufi dalam menghadapi sesamanya adalah bahwa dia tidak pernah merasa tersinggung terhadap perlakuan yang tidak menyenangkan yang ditujukan kepadanya, namun membalasnya dengan kebajikan, kasih sayang dan kedermawanan."
Pernyataan itu sangat sempurna menggambarkan sifat Ibunda Parvaneh. Selama hidupku, aku belum pernah sekalipun menyaksikan Ibunda Parvaneh merasa terluka oleh mereka yang hanya memanfaatkan, ataupun tergoncang oleh mereka yang berbuat tidak baik kepadanya. Sebaliknya, beliau terus tetap menarik orang-orang ke jalan kelembutan dengan kebaikannya yang tak tergoyahkan dan dengan cinta yang tanpa syarat dan tak terbatas.
Kehidupan Ibunda Parvaneh tidak bisa ditangkap dalam satu kisah yang penuh drama. Bukan juga sebuah dongeng tentang wahyu yang datang dengan tiba-tiba. Ataupun tanda-tanda kebesaran yang datang sesaat.
Namun lebih pada kisah tentang api yang terus membara dan panasnya tidak terpadamkan selama lebih dari tujuh puluh tahun.
Walaupun pada usianya yang sembilan puluh dua tahun, Ibunda Parvaneh bangun setiap pagi dan dengan tekad yang tetap membara masih terus memberikan nasihat dan petunjuk bagi mereka yang sedang dalam kebingungan hidup di dunia.