Kategori Puisi: Puisi Spiritual

  • Guru Ahli Cinta Dan Kasih Sayang

    Walaupun keindahanNya jauh diluar pengertianku
    la mencentak inti keberadaanku dengan cinta dari awal aku diciptakan

    Setiap orang menerima dari Sang Yang
    Pencipta sesuai kemampuannya.
    Dan di surga yang berputar, cinta adalah bagianku terbanyak

    Aku tidak akan terluka oleh kebencian dari manapun juga,
    Dengan Kemurahan Sang Yang Terkasih, aku berenang di dalam lautan kebajikan

    Kedai minum sudah buka, dan aku sibuk bekerja dalam urusan cinta
    Mabuk dari bermangkuk-mangkuk anggur
    Aku dengan gembira bercengkerema dengan siapapun juga

    Walaupun Kadang menyaksikan Sang Yang
    Terkasih,
    Aku bersujud dihadapanNya pada saat bertapa:
    Terpesona oleh kerupawananNya

    Di wilayah " ketidak hadiran diri sendiri " dan dengan Penggairah Hati yang cantik menawan,
    Aku bebas dari ikatan diri sendiri dan petuah kebajikan

    Sebagaimana penganugrah cahaya kepada jiwa,
    Bersinar diseluruh dunia
    Aku adalah guru ahli cinta dan kasih sayang
    Atas anugrah cinta dan kemurahan dari
    Sang Yang Teman Terkasih.
    Alireza Nurbakhsh
    London 26 April 2023

  • Butterfly

    She was dancing among tree branches
    In the dark of night
    In silence and solitude,
    And the moonlight
    Enhanced the beauty of her dance

    Now and then, getting tired,
    She would rest on a doorway
    Hoping for the door to open
    So she could enter,
    and delight the host

    That night, each door she tried was shut
    In anticipation, | watched
    her elegant dance
    And her flying from door to door

    Until she came to my door
    Which was open
    She fluttered towards me
    And landed on my shoulder
    Love surged through me
    Outwardly, she resembled a butterfly
    Yet, no one knew the reality of her being.

    Alireza Nurbakhsh
    Banbury, January 24, 2025

    KUPU-KUPU
    Kupu kupu itu menari diantara cabang- cabang
    Di kegelapan malam
    Dalam keheningan dan kesendirian
    Dan sinar bulan,
    Menambah keindahan tariannya

    Pada saat kelelahan,
    Kupu-kupu itu beristirahat didepan pintu masuk
    Berharap pintu akan terbuka
    Sehingga ia bisa masuk dan menghibur tuan rumah

    Malam itu, setiap pintu tertutup
    Penuh harapan, aku melihat keindahan tariannya yang anggun
    Dan melihat kupu-kupu itu terbang dari pintu ke pintu
    Hingga kupu-kupu itu tiba di pintu rumahku yang sedang terbuka
    la mengipas sayapnya terbang kearahku
    Dan hinggap di pundakku

    Cinta bergelegak menelusuri jiwaku

    Penampakan wujud luar dia seperti seekor kupu-kupu

    Namun tidak ada seorangpun yang mengetahui wujud sejati keberadaannya
    Alireza Nurbakhsh
    Banbury, 24 Januari 2025

  • Apakah Engkau Tau?

    Apakah Engkau tau?
    bahwa dalam kerinduanku kepadaMu,
    Aku kebingungan karena Engkau?
    Bahwa aku mencintaiMu dan aku adalah milikMu?

    Apakah Engkau tau?
    bahwa aku menghabiskan hari hariku menanyakan tentang Engkau kemanapun aku pergi?

    Apakah Engkau tau ?
    bahwa selama aku masih hidup,
    Aku akan melaksanakan dengan sepenuh hati semua perintahMu
    Dan menepati sumpahku kepadaMu

    Apakah Engkau tau?
    bahwa, ketika aku melihatMu,
    Aku merasa sangat bahagia dan musnah semua kepedihan di dalam hatiku

    Apakah Engkau tau?
    bahwa dimanapun aku berada
    Menjadi tamuMu membuatku senang dan puas karena cukup segala-galanya

    Apakah Engkau tau?
    Aku Engkau berikan kepada angin
    Dan menghancurkanku dengan gelombang rambutMu

    Apakah Engkau tau?
    Aku terbakar habis seperti lilin
    Dan akan memberikan cahaya penerangan
    Selama aku menjadi kekasihMu

  • Setelah Engkau Dan Aku

    Setelah kita tiada,
    Bintang-bintang akan tetap bersinar,
    Lautan, takkan lupa pasang sSurutnya, dan angin akan membawakan lagunya melalui dedaunan seperti sebelumnya

    Kematian,
    Sebagai tirai terakhir kehidupan,
    Dalam keheningannya berteriak:
    Apapun yang kita harapkan untuk dicari esok hari, maupun apa yang kita lupakan kemarin, tidak ada artinya lagi.
    Untuk hidup
    Dalam mimpi masa lalu dan masa depan
    Adalah bagaikan memegang koin tanpa kemurnian, yang tiada harganya

    Hidup adalah
    Berdetak hanya pada saat ini –
    Dalam nafas cinta.

  • Di Antara Jajaran Para Pecinta

    YANG KASMARAN
    Engkau pasti terpesona oleh cinta seorang wanita cantik
    dan menjadi seperti burung gila, terbang tinggi di angkasa
    karena merindukannya.

    Engkau harus mengambil piala dari tangannya
    dan masyuk dalam asmara dengan kekasih hatimu itu

    Orang yang berakal tidak akan pernah bisa memahami misteri cinta,
    Engkau harus menjadi teman bagi orang yang gila asmara sakral
    "Kita" dan "aku" adalah penghalang di jalannya.
    Engkau harus menjadi ketiadaan dan mengosongkan diri dari "aku" dan "kita".

    Melihat rambutnya bukan untuk semua orang.
    Engkau harus terlebih dahulu bergabung dengan para pecinta yang terbakar api asmara sakral dan menjadi gila karenanya

    Dia meminta kekasihnya segala- galanya, iman dan hati:
    Engkau harus mempertaruhkan hidupmu dalam cinta
    Nurbakhsh,
    dalam kegembiraan dan terbebas dari diri berkata: Kamu harus menjadi debu di bawah kaki keindahan yang bercahaya

  • Nafas Demi Nafas Menuju Kedai

    Napas demi napas, aku memasuki kedai tadi malam,
    Cangkir demi cangkir,
    dia menuangkan anggur cemerlang untukku

    Di dalam cawan lain,
    terbakarlah api yang ganas,
    Berkali-kali aku meminum api itu, sebuah ritual kuno

    Dengan satu ciuman manis, dia mencuri hatiku dan keyakinanku, dan dia mengunci jalanku.
    Selangkah demi selangkah aku mencicipi anggur manisnya.
    Doa sang guru Majusi,
    kebaikan sang kekasih –
    Cepat- cepat
    aku sampai di pelataran agung

    Di atas takhta cinta,
    aku melihat kekasihku,
    dia yang cantik jelita tak terbatas, tak terbatas – dia bagaikan taman abadi

    Aku melarikan diri dari diriku sendiri dan melanjutkan perjalanan dengan langkah yang Bebas, sangat bebas, melalui tatapan belas kasih dan cahayaNya

    Mengapa ragu,
    bila Nurbakhsh — seorang pengembara dan pencinta cinta —
    Mati dan mati dalam cinta-
    dengan kepastian,
    di setiap saat?

  • Kekasih Yang

    MEMPERTARUHKAN SEGALANYA

    Apa hubungan antara kekasih yang mempertaruhkan segalanya dengan agama?
    Kekasihnya telah menjadi apa pun yang ia cari dan semua yang ia ketahui.

    Baginya, yang dicintai adalah semuanya,
    Baik yang diperbolehkan maupun yang tidak.
    Segala sesuatu selain yang dicintai, tidak sah baginya.
    la terbakar cinta tiada henti – siang dan malam.
    Jauh dari yang dicintai, bagaimana ia bisa menemukan kedamaian?

    Ya Tuhan, tambahkanlah cintaku di setiap nafasku
    Hingga aku terbebas dari dunia seratus ribu kali lipat

    Tak ada yang terlintas di pikiran selain gambaran wajah manis kekasih,
    di dunia ini dan di masa ini
    Wahai kekasihku, berikanlah aku tekad untuk meninggalkan diriku sendiri
    Sehingga aku menjadi dirimu seutuhnya

    O'Nurbakhsh, agamaku adalah cinta – hanya cinta.
    Aku tidak punya urusan dengan siapa pun kecuali melalui cinta.

  • Kisah-Kisah Sufi

    PESTA KEKOSONGAN
    Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh
    Terinspirasi dari sebuah kisah dalam
    Mathnawi karya Rumi

    "Para pecinta tidak mempunyai urusan dengan keberadaan. Mereka mendapatkan keberuntungan tanpa melakukan investasi, karena keuntungan mereka adalah Sang
    Yang Kekasih itu sendiri." — Rumi

    Sejak fajar, gerimis halus telah mengubah Place du Tertre, Paris, menjadi cermin yang bergetar.

    Aroma batu basah menguak bagai dupa saat para pelukis melipat kuda- kuda lukis mereka dan para turis yang menghilang di balik payung.
    Hanya satu orang yang bertahan.

    Philip, seorang pematung yang pernah dipuja karena membentuk marmer menjadi cahaya, berdiri sendirian di tengah gerimis.

    Bertahun-tahun sebelumnya, sebelum patung" David "karya
    Michelangelo di Florence, ia merasakan keindahan menyambarnya bagai kilat. Sejak saat itu, ia mencoba mengukir pancaran cahaya yang sama ke dalam hidupnya sendiri.
    Namun, keindahan tak membayar sewa. Kantongnya kosong, dan rasa lapar menggerogotinya pelan-pelan. la datang ke alun-alun dengan harapan bisa meminjam beberapa euro untuk membeli roti. Namun, saat berjalan-jalan di antara kios- kios, ia berhenti.
    Seorang perempuan tanpa tangan sedang melukis seekor harimau dengan kakinya. Setiap goresannya terasa pasti dan bercahaya. Ia tampak bergerak dalam keheningan yang tak terlihat. Kerumunan bergumam iba dan kagum, tetapi ia berada di tempat lain.

    Philip merasakan sesuatu yang terbuka di dalam dirinya—getaran pengenalan. Kekuatan yang sama yang pernah menggelegar dari
    David kini mengalir melalui tindakan perlawanan yang tenang ini. Batas-batas rasa laparnya pun
    Sirna.
    Hujan semakin deras. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kain putih dari tasnya dan membentangkannya di atas batu-batu yang berkilauan.
    Di atasnya ia meletakkan keranjangnya yang kosong, sebuah pengakuan akan kebutuhan sekaligus penyerahan diri.

    Sesaat ia ragu-ragu, malu dengan absurditas yang ia rasakan dalam dirinya. Lalu, dorongan itu menguasainya.
    Dia mulai berbalik.
    Perlahan pada awalnya, lalu dengan lingkaran yang semakin lebar, lengannya terbuka seperti sayap.
    Hujan membentuk jejak keperakan di wajahnya. Gerakannya semakin dalam, menjadi pusaran penyerahan diri. Tawa menggema di alun-alun: seseorang bertepuk tangan, yang lain bergabung. Tak lama kemudian, orang-orang asing pun ikut bersamanya—turis, musisi, pelukis— yang masing-masing terperangkap dalam arus kegembiraan yang tak terlihat.
    Ketika hujan akhirnya reda, Philip berhenti. Yang lain pun pergi, senyum mereka masih tersisa bagai cahaya lilin seusai misa. la berlutut di samping kainnya yang basah kuyup dan keranjangnya yang kosong. Keheningan yang menyusul terasa begitu luas, bagai jeda setelah berdoa.

    Seorang pria bermantel gelap menghampiri, ia seorang kritikus seni dari sebuah majalah ternama di
    Paris. "Saya tidak mengerti," katanya. "Anda menari seolah-olah merayakan keajaiban. Tapi tidak ada apa-apa di sana."
    AKU AKU AKU AKU
    Do
    turis, musisi, pelukis semuanya terperangkap dalam arus kegembiraan yang tak terlihat.
    Ketika hujan akhirnya reda, Philip berhenti. Yang lain pun pergi, senyum mereka masih tersisa bagai cahaya lilin seusai misa. la berlutut di samping kainnya yang basah kuyup dan keranjangnya yang kosong. Keheningan yang menyusul terasa begitu luas, bagai jeda setelah berdoa.
    Seorang pria bermantel gelap menghampiri—seorang kritikus seni dari sebuah majalah ternama di
    Paris. "Saya tidak mengerti," katanya. "Anda menari seolah merayakan keajaiban. Tapi di kain
    Anda tidak ada apa-apa—tidak ada roti, tidak ada anggur, tidak ada karya seni untuk dijual."
    Philip mendongak. Tetesan air hujan berkilauan di janggutnya bagai bintang redup. "Hanya orang bodoh yang menari demi sesuatu yang bisa dihitung," katanya.
    "Oh, ya?" sang kritikus tersenyum tipis. "Dan untuk apa orang bijak menari?"
    "Untuk keindahan yang tak berwujud," jawab Philip. "Untuk yang tak terlihat yang menyehatkan jiwa."
    "Dan bagaimana seseorang melihat yang tak terlihat?"
    Tatapan Philip melembut.
    "Untuk melihat keindahan, kau harus berdiri telanjang di hadapannya—tanpa sepengetahuanmu, tanpa harga dirimu, tanpa rasa laparmu. Ketika kau benar-benar hampa, cinta menyerang—dan kau lenyap."
    la mengangkat kain putih itu, memerasnya pelan, dan mengamati air hujan mengalir di sela-sela jemarinya bagai cahaya cair. "Ini," bisiknya, "adalah pesta bagi mereka yang lapar. Hujan ini adalah roti kita."
    Dari tepi alun-alun, seorang gadis kecil mendekat, memegang baguette. "Untuk makan malam
    Anda, Tuan," katanya malu-malu.
    Philip tersenyum.
    "Aku sudah makan, sayang. Tapi kebaikanmu telah menyempurnakan pesta ini."

  • Kerajaan Cinta

    Dunia sedang dalam kekacauan
    Kebohongan. memakai mahkota
    Dan duduk di atas takhta manusia

    Pikiran Baik, Kata-kata Baik, dan
    Perbuatan Baik
    Adalah tiga bintang yang diam
    Tersembunyi di balik awan keburukan jiwa

    Ahura Mazda, dewa tertinggi
    Telah memanggil Spenta Mainyu yang baik hati kembali ke tempat
    Suci cahaya

    Dan Ahriman, roh jahat
    Dengan pasukan Angra Mainyu, kegelapan dan tipu daya,
    Telah menyerbu ladang hati manusia

    Spenta Armaiti, yang harmonis
    Berbalut jubah kerendahan hati dan kasih sayang
    telah mundur, dan bumi,

    Malu dengan kurangnya kebaikan
    kita Bersembunyi di kosmos yang Sunyi.

    Kekasihku,
    Hakikat cinta dan keindahan,
    Ada dalam tidur nyenyak-
    Dan monster Ahriman memburunya

    Dalam mimpi, aku melihat kekasihku- Misteri keberadaan
    Bersinar di matanya
    Dia mengatakan:
    Dunia selalu bergejolak Ahura
    Maza dan Ahriman Adalah dua sisi mata uang yang sama
    Tak satu pun bermakna tanpa yang lain
    Jika yang satu diam, Yang lain akan mati tanpa suara

    Berangkat menuju kerajaan cinta
    Dimana batas-batas menghilang,
    Dan manusia yang kosong dari dirinya, akan menjadi satu dengan semua

    Di sana,
    Baik dan jahat
    Tidak akan punya tempat untuk berjalan
    Saya bertanya:
    Dimana jalannya?
    Dia menjawab: Jadilah untuk orang lain
    Dan cinta akan datang untuk membimbingmu
    Menuju kerajaannya

  • Kepastian Hati

    Sebuah Kisah tentang Keraguan dan
    Persahabatan
    Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh

    Hampir sepanjang hidupnya, Ramin tinggal di bawah atap yang kokoh. Atap itu dibangun dari kepastian. Kepastian keyakinan, Kepastian penilaian,
    Kepastian arah.

    Setiap pagi, ia bangun dengan mengetahui di mana posisinya dan ke mana tujuannya. Dunia terasa teratur.
    Tanah di bawah kakinya terasa kokoh.
    Bahkan keraguannya, ketika muncul, terkendali dengan rapi.

    Kemudian ia bertemu dengan Joseph, dan retakan kecil muncul di atap.
    Joseph tidak bersuara keras, dan ia juga tidak berdebat dengan penuh semangat. la mengajukan pertanyaan lalu menunggu. la banyak membaca, sedikit berbicara, dan tampak tidak terganggu oleh ketidaktahuannya. Jika Ramin memberikan jawaban, Joseph memberikan jeda.

    Awalnya, Ramin merasa hal ini meresahkan tetapi tidak berbahaya.
    Seiring waktu, retakan itu semakin melebar.

    Selama berjalan-jalan panjang dan percakapan santai, Joseph berbicara tentang pikiran—bukan sebagai jendela menuju kebenaran, tetapi sebagai alat untuk bertahan hidup. Dia menunjukkan hal-hal kecil: bagaimana objek yang jauh tampak lebih dekat daripada sebenarnya, bagaimana rasa takut mempertajam persepsi bahkan ketika bahaya tidak ada.

    Dia berhenti di jalan setapak.
    "Indera kita melebih-lebihkan," katanya.
    "Indera melindungi kita. Indera tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi."

    Malam itu, sambil terjaga, Ramin merasakan sesuatu yang asing—pusing samar, seolah-olah tanah di bawahnya telah bergeser. Tidak ada yang berubah, namun tidak ada yang terasa sepenuhnya kokoh.

    Beberapa minggu berlalu.
    Joseph berbicara lebih sedikit, tetapi keheningan lebih berpengaruh daripada kata-kata. Ramin mulai memperhatikan betapa cepatnya pikirannya menuju kesimpulan, betapa mudahnya pikirannya mengisi kekosongan dengan kepastian.

    Keyakinan muncul secara otomatis, seperti tarikan napas.
    Suatu malam, Joseph berkata, "Kau tak pernah keluar dari pikiranmu. Semua yang kau ketahui datang sudah terbentuk."
    Atapnya berderit.
    Ramin merasakan keraguan bukan sebagai sebuah ide, melainkan sebagai sebuah sensasi—rasa sesak di dada, kekosongan yang tenang tepat di bawah tulang rusuk.
    Kemudian, Joseph berbicara tentang benar dan salah—bukan dengan nada meremehkan, tetapi dengan lembut. Ia menyarankan bahwa nilai-nilai adalah kesepakatan, bukan absolut: bahwa dunia itu sendiri tidak mengeluarkan perintah apa pun.
    "Dunia ini bungkam," katanya. "Kitalah yang berbicara ke dalamnya."

    Malam itu, atapnya runtuh. Ramin mendapati dirinya berdiri di udara terbuka. Tanpa tempat berlindung.
    Tanpa pijakan yang terasa aman. Dia mempertanyakan segalanya— keyakinan, pengetahuan, kewajiban— tetapi setiap jawaban lenyap segera setelah terbentuk. Dia mencoba hidup seperti ini, waspada dan skeptis, tetapi usaha itu membuatnya kelelahan.
    Dia meleset dari atap.
    la mencari sesuatu yang nyata —buku, diskusi, belajar disiplin ilmu tertentu— tetapi hanya menemukan lebih banyak pertanyaan.

    Akhirnya, ia beralih ke anggur, salah mengira , dikira anggur bisa melupakan sebagai kelegaan. Awalnya anggur menghangatkan tubuhnya. Kemudian meredam kebisingan. Akhirnya, anggur menggantikan pikiran sepenuhnya.
    Joseph memperhatikan.
    "Ini bukan tempat berlindung," katanya suatu kali sambil menyentuh kaca. "Ini hanya tempat untuk melupakan."
    Ramin tersenyum tipis. "Melupakan saja sudah cukup." Bukan?

    Suatu malam musim dingin, dingin yang menusuk dan tak kenal ampun, Ramin pingsan di jalan. Ketika ia terbangun, langit-langit di atasnya berwarna putih dan berdengung. Seorang dokter berbicara dengan lembut, tanpa emosi.
    Hatinya telah gagal berfungsi. Waktu telah menyempit.
    Joseph datang.
    "Kau datang," kata Ramin. Suaranya terdengar datar. "Tidak ada orang lain yang datang."
    Joseph duduk di sampingnya. "Aku di
    SINI."
    Ramin mengamatinya. "Kau meragukan segalanya," katanya. "Mengapa ini?"
    Joseph tidak langsung menjawab. Dia meletakkan tangannya di pagar tempat tidur dan menatap Ramin—bukan sebagai masalah, bukan sebagai pertanyaan.
    "Untuk hal-hal tertentu dalam hidup, kau tak butuh alasan," kata Joseph pelan. "Kau merasakannya sebelum memahaminya. Persahabatan adalah salah satunya. Cinta adalah yang lainnya."

    Ramin merasakan kehangatan menjalar di dadanya—tak terduga, stabil. Bukan kelegaan. Bukan harapan. Sesuatu yang lebih tenang.
    "Kau telah merampas kepastianku," bisik
    Ramin. "Namun ini tetap ada."
    "Saya mempertanyakan atapnya," kata
    Joseph. "Bukan apa yang ada di bawahnya."
    Ramin mengulurkan tangannya.
    Tangannya gemetar. Joseph meraihnya tanpa ragu-ragu.
    Dunia tidak kembali pada maknanya.
    Kebenaran tidak menjadi jelas. Kematian tidak mundur.

    Namun dalam keheningan di antara mereka, sesuatu tetap teguh. Dan Ramin memahaminya bukan dengan pikirannya, yang tidak lagi mampu memegang kepastian, tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam bahwa ketika setiap keyakinan lenyap, kehadiran tetap ada.

    Beberapa kepastian tidak dapat dibangun. Kepastian itu hanya dapat disentuh.

    Alireza Nurbakhsh,
    London, 18 Desember 2025
    Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari naskah aslinya dalam bahasa Inggris.