Kategori Puisi: Puisi Spiritual

  • Rindu Untuk Melihatmu

    Datanglah, cintamu telah membawa kebahagiaan di hatiku
    Dan bibirmu yang manis telah mengubahku menjadi Farhad

    Datanglah, agar aku dapat tenggelam dalam tatapanmu.
    Ketika engkau menghancurkanku,
    aku kaupulihkan dan kembali menjadi utuh sepenuhnya

    Aku mengikutimu
    kemanapun engkau pergi
    Engkau memburuku dan mengubahku menjadi seorang pemburu.

    Aku membayangkan wajahmu yang menawan
    Kerinduan untuk melihatmu telah membawa kebahagian ke hatiku.

    Tadi malam engkau memberiku secangkir anggur yang menyala,
    Seteguk,
    dan aku mengalami kesatuan dari semua kualitas yang berbeda.
    Kau bertanya padaku, "O kekasihku, apakah engkau merasa mengantuk?".

    Godaanmu yang genit membuatku kehilangan akal dan berteriak
    Kau bergoyang seperti pohon cemara dan merenggut hatiku

    Aku mengitari keagunganmu seperti angin.
    Kau menganugerahkan cahaya keagungan pada jiwaku.

    Bahwa selalu bersamamu,
    Dan setiap saat
    Telah membebaskanku dari diriku sendiri

  • Hujan Belas Kasihan

    Jika pikiranku
    Terjerat ditengah tengah gegernya dunia yang gelisah
    Sehingga seperti burung yang terkurung
    Di tengah hujan badai pikiran yang mengelegar
    Jadilah diri ini keheningan yang membawa kedamaian
    Dan bebaskan dari belenggu dari diri sendiri

    Jika aku hilang tersesat
    Di dalam kegelapan lorong ilmu pengetauan
    Mengembara tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa cahaya
    Jadilah diri ini cahaya
    Yang cahayanya menyalakan lantera jiwaku
    Untuk menunjukkan aku kepada Kebenaran
    Sejati

    Jika hatiku menjadi sekeras batu
    Dan tidak tergugah oleh hembusan lembut cinta

    Jadilah diri ini hujan deras yang menyirami
    Dan membantu tumbuh dan berkembang
    Bunga Cinta
    Di hatiku yang kering kerontang

    Jika aku, bagai orang yang tidak mampu membela diri sendiri
    Merayap ke sudut
    Karena rasa takut
    Jadikan diri ini tempat pengungsian
    Dan peluklah aku dalam lembutnya pelukanmu
    Yang lebih hangat dari segala harapan

    Jika nafsu yang buta
    Menggelapkam mata hatiku
    Jadikan diri ini cinta yang membangunkan kesadaranku
    Dan biarkanlah aku terbang kepadamu
    Seperri seekor burung Phoenix
    Alireza Nurbakhsh
    London, 9 July 2025

  • Dia Telah Muncul

    Wahai sahabat,
    Sang Yang Terkasih hadir bagai cahaya bulan la sudah lama tidur penuh kenyamanan, kemudian bangkit dari pembaringannya

    Manis dan anggun,
    Hadir dari belakang cadar
    la keluar dari celah celah,
    lengkungan alisnya bagaikan kubah

    la bagaikan pohon cemara yang melambai
    Penuh candaan dengan seratus kegenitan
    Melihat kecantikannya,
    Hatiku terbang tanpa kendali

    Jiwaku terjun
    kedalam lautan kebingungan
    Mencari jejaknya.
    Beruntung, aku diselamatkan dari pusaran
    Dengan kasih sayang dan keanggunannya
    Seratus pola muncul
    dari bentuknya yang indah
    Akalku berkeping dan aku
    Tersesat dalam keajaiban.

    la melihat hati yang terpesona ini
    dengan cinta
    Dan matanya yang memabukkan
    Menuangkan aliran anggur merah terbaik yang murni

    Para teman dan pendamping kita
    semua kasmaran
    Mereka penuh kebahagiaan dengan cintanya
    Dia Sang Yang Kekasih
    menganugrahkan cahaya saat dia muncul laksana cahaya bulan

  • Sumpah Dan Janji Cinta

    Terikat oleh rambut panjang Sang Yang
    Kekasih
    Aku terbebaskan dari pemujaan terhadap diriku sendiri
    Sagi" Penyaji Anggur " tuangkan anggur kepadaku dan tunjukkan rahasia akan keberadaan

    "Dalam lingkaran cinta dan kasih sayang, menyombongkan diri adalah suatu penghujatan ",
    Kata Guru Wali Pemandu orang orang yang sedang kasmaran mabuk cinta di tempat kami berkumpul

    Kekasih Tercinta, yang seindah bulan purnama, duduk di kedai minum
    Memegang Secawan Anggur, kehadiraNya dirasakan diseluruh tempat

    Dengarkan apa yang dikatakan dan ketahuilah,
    Saat engkau duduk bersama" Teman"
    Engkau tidak berada diruangan lagi

    Dalam Jalan Cinta, engkau akan dibebaskan dari dirimu sendiri
    Ketika engkau mengabaikan dirimu sendiri
    Engkau akan dibebaskan oleh cintanya

    Mengapa keraguan ini masih ada?
    Minum dan habiskan anggur milik Sang
    Kekasih
    Apabila engkau telah membuat janji dan sumpah Cinta kepada Sang Yang
    Kekasih yang Maha Indah
    Demi untuk menjaga pemberi cahaya jiwa – jiwa untuk terus bersinar padaku dengan cinta
    Aku mengikat diriku dengan rambut panjang Sang Yang Kekasih yang
    Sempurna
    Dalam pemujaan cinta dan kebahagian tiada tara

    Alireza Nurbakhsh
    Banbury, 9 September 2025
    Diterjemahkan oleh
    Anna San Taylor
    London 26 September 2025

  • Keindahan Yang Tak Berhias

    Jika hatiku yang gelisah ini,
    Dengan kata-kata yang lebih ringan dari udara,
    Dan harapan seperti api yang padam – telah mengganggumu

    Katakanlah padaku,
    Agar aku dapat beristirahat dengan tenang
    Dalam keheningan keindahanmu.

    Namun, singkirkan mahkota bunga dari kepalamu,
    Pejamkan matamu,
    Sembunyikan bibirmu dalam selubung kegelapan malam
    dan lihatlah,
    Bahwa aku masih mencintaimu,

    Wahai angin purba,
    Jadilah seperti botol botol jamu,
    Dan biarkan aroma cintanya
    Memenuhi seluruh diriku.

    Wahai siang dan malam,
    Kau, yang berbagi senja,
    Bawalah air mataku yang merah padanya
    Sebagai bukti bahwa aku mencintainya –
    Bukan untuk mawar
    Bukan untuk hasrat
    Bukan untuk kenikmatan
    Hanya untuknya belaka

  • Engkau Dan Aku

    Sepasang Burung putih
    Berdua bersama
    Saat Matahari tenggelam
    Diatas keindahan samodra yang tenang.
    Tak menyadari akan bintang bintang yang sedang tidur dibawah air
    dan bintang bintang yang masih bercanda di angkasa
    Yang terbang dengan santainya dan gembira menikmati
    "keberadaannya sebagai ciptaan".

    Aku ingin , kita seperti mereka juga
    Saling berdampingan
    Dalam saat saat keheningan
    Tidak menyadari akan surga yang berputar
    Untuk merasakan " cinta ".
    Perjalanan denganmu
    Ke galaxi yang tak terkira jaraknya
    Dan disana menyatu menjadi bintang
    Aku akan menjadi dirimu
    Dan engkau menyatu denganku

    Kemudian,
    Di atas sepasang burung yang sedang kasmaran
    Kita akan mengitari sepanjang jalan cinta
    Dan merayakan cinta dan kebajikan

    Alireza Nurbakhsh
    Banbury
    2/7 Agustus 2025

  • Kisah Para Sufi

    CERMIN KECAMAN DIRI
    Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh

    “Orang yang mengetahui kesalahannya sendiri lebih dekat dengan kebenaran daripada orang yang melihat kesalahan orang lain.”
    – Bayazid Bastami

    Sang profesor berdiri di hadapan para mahasiswanya, suaranya tenang dan penuh pertimbangan.
    "Mengkritik gagasan dalam mengejar kebenaran itu satu hal," katanya, "menyalahkan, mencari kesalahan orang-orang yang memegangnya itu hal yang berbeda.
    Yang pertama menuntun pada pemahaman, yang kedua pada kepahitan. Kita harus melakukan yang pertama jika kita ingin tumbuh dalam kebijaksanaan, dan menjauhi yang kedua, karena itu hanya melahirkan kesombongan dan permusuhan."

    Kelas hening. lalu Margaret mengangkat tangannya. "Profesor, kebanyakan orang tidak memisahkan ide mereka dari identitas mereka. Ketika Anda mengkritik ide mereka, mereka menganggapnya sebagai kritikan yang ditujukan kepada pribadinya, kemudian membalas nya. Lalu, apa yang harus dilakukan?"

    Sang Profesor tersenyum tipis.
    "Menjadi manusia itu urusan yang rumit. Aku akan mengingatkan mereka bahwa aku hanya peduli pada kebenaran, bukan kepribadian mereka. Jika mereka tidak bisa membedakannya, aku akan berhenti berdebat. Tidak ada cahaya yang ditemukan dalam pertengkaran yang hanya memuaskan ego."

    Margaret mengangguk, tetapi merasa tidak yakin. la pernah mencoba ini dengan teman- temannya sebelumnya. Setiap diskusi berakhir dengan perasaan terluka dan keheningan yang panjang. Setiap kali, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ide-ide yang salah harus dilawan, bahkan dengan mengorbankan persahabatan.
    Namun, setelah setiap pertengkaran, rasa sakit masih terasa di dadanya—beban berat kesepian dan keraguan.

    Tahun demi tahun berlalu.
    Pertanyaan itu tetap tak terjawab, hingga suatu sore memberinya pelajaran tak terduga.
    Dia sedang mengunjungi seorang teman ketika seorang wanita tua mengetuk pintu, bertanya dengan lembut apakah dia boleh memarkir mobilnya di luar sebentar.
    "Sama sekali tidak!" bentak temannya. "Beraninya kau bertanya seperti itu!"
    Wanita itu tersenyum, tak tergoyahkan. "Maafkan aku," katanya lembut. "Aku tidak bermaksud merepotkanmu."
    Margaret menyaksikan dengan takjub saat wanita itu berjalan pergi dengan ketenangan yang sama anggunnya seperti saat ia datang.
    Rasa ingin tahu yang aneh muncul dalam dirinya. la pamit, bergegas keluar, dan menyusul orang asing itu.
    "Permisi," katanya, sedikit terengah- engah. "Bolehkah aku ikut denganmu dan membantumu mencari tempat parkir?"
    Wanita itu menoleh dengan senyum tenang. "Tentu saja."

    Mereka berjalan bersama dalam diam untuk beberapa saat. Akhirnya
    Margaret berkata, "Aku kagum dengan ketenanganmu. Kau tidak tampak terganggu dengan nada bicara temanku yang kasar."
    "Dia benar," jawab wanita itu lembut. "Aku memang mengganggunya. Kata-katanya mencerminkan perasaannya."

    "Tapi bagaimana aku bisa tetap tenang jika diperlakukan tidak adil?
    Ketika orang-orang berbicara seperti itu kepadaku, aku merasa terluka selama berhari-hari." Kata
    Margaret.

    Wanita itu menatapnya dengan tatapan lembut. "Ini buah dari latihan yang panjang," katanya.
    "Bertahun-tahun saya mengamati ego saya sendiri dan belajar untuk tidak menurutinya. Jika Anda ingin bertoleransi terhadap orang lain, mulailah dengan melihat diri Anda sendiri dengan jernih. Bersikaplah kritis terhadap reaksi Anda sendiri— bukan dengan amarah, tetapi dengan kesadaran. Ketika Anda belajar memaafkan kelemahan Anda sendiri, kesalahan orang lain tidak lagi Mampu menyakiti Anda."

    Mereka sampai di mobilnya. Ia menoleh ke Margaret dengan pancaran tenang yang seolah melembutkan suasana di sekitarnya.
    "Ketika seseorang melemparkan api kepadamu," katanya, " Engkau boleh memilih menjadi kayu kering atau air. Jika engkau memilih api, api akan melahapmu, atau api itu akan mati di dalam dirimu jika engkau memilih air. Maka Jadilah air."
    Wanita itu tersenyum, masuk ke mobilnya, dan melaju pergi.
    Sementara Margaret berdiri di sendiri di tempat itu seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang diam-diam berubah tempat.

    Malam itu, ia mendapakan dirinya tidak memikirkan kata-kata perempuan itu, melainkan kehadirannya: tenang, tanpa rasa waspada, tanpa jejak kebencian.
    Seolah-olah ia telah bertemu seseorang yang hidup dalam ritme waktu yang berbeda.

    Sejak hari itu, Margaret mulai mengarahkan kritiknya ke dalam dirinya sendiri dan mengamati gerak-gerik pikirannya, kejengkelan yang membumbung bagai asap, kesombongan tersembunyi yang terpendam karena merasa benar, dan sengatan penilaian yang cepat.

    Perlahan-lahan, percakapannya melunak. la mengajukan lebih banyak pertanyaan, mendengarkan lebih lama, dan mendapati dirinya melihat bukan kesalahan, melainkan kisah—luka dan harapan—di balik perkataan orang lain.

    Yang mengejutkannya, orang-orang mulai mendengarkannya juga.
    Ketika ia sungguh-sungguh mencoba memahami, ia mendapati bahwa keyakinannya sendiri sering kali sirna. Di ruang yang ditinggalkan, sesuatu yang bercahaya mulai muncul— kejernihan yang tenang yang lahir dari belas kasih.

    Bertahun-tahun kemudian, ketika dia sendiri menjadi profesor, dia sering mengatakan kepada para mahasiswanya:
    “Bersikaplah kritis, tetapi mulailah dari diri Anda sendiri. Orang yang menaklukkan ego tidak lagi berdebat untuk menang,
    tetapi untuk mengerti."

  • Pengakuan Palsu

    Seorang kekasih penyihir hati
    Sedang kasmaran,
    dan cantiknya seperti bulan purnama penuh
    Datang kepintu rumahku
    Pada suatu pagi saat subuh

    Matanya hitam legam, rambutnya acak acakan
    Dia akan mencuri hati siapa saja
    Hanya dengan sekilas tatapan matanya

    "Siape engkau wahai orang yang bijaksana ?", la bertanya
    "Rajanya pemandu spiritual, Guru ahli gaib ?" Aku menjawab
    la tertawa mendengar kata kata dan pernyataanku

    "Wahai engkau,
    Yang tersesat dan tenggelam dalam dosa
    Apa yang engkau ketahui tentang Guru ahli gaib dan pemandu spiritual?"
    Engkau yang terpesona pada diri sendiri dan kehilangan arah?"

    Tinggalkan dirimu sendiri
    dan pilihlah aku –
    menjadi kekasihmu satu-satunya
    Dan terbakarlah oleh cintaku kembali
    Sekarang, dan nanti

    Serahkanlah keberadaan jati dirimu
    Untuk ombak rambutku
    Datanglah dengan dada penuh api dan helaan nafas".
    Kutinggalkan jati diriku
    menyerah menjadi Guru dan pemandu spiritual
    Dia Sang Yang Terkasih,
    Menganugrahkan aku cahaya
    Seindah dan seterang bulan purnama

  • Kasmaran Yang Abadi

    Hatiku tidak akan pernah menyimpan cinta selain cintamu.
    Di hadapanmu, kesedihan apapun tak mempengaruhiku.

    Dia yang memuji cahaya sebagai pembimbing intelek
    Tidak tahu apa pun tentang rasa kasmaran yang kita rasakan

    Dan dia yang mencarimu di Kabah
    Hatinya buta dan tidak memiliki api cinta

    Sang mullah begitu tersesat dalam prinsip dan dogma agama, sehingga ia tidak bisa berjalan di jalan yang dicintainya.

    Karena wajahmu bersinar di hatiku, ia takkan pernah pergi ke pintu lain

    Seorang kekasih pernah bertanya kepada guru kami, "Di manakah
    Khanegah yang tidak memiliki pintu?"

    Wahai penyanyi, petiklah melodi dalam mahur
    Dalam Kedai cinta ini, tak menyimpan gairah dan semangat

    Hatiku hanya menyimpan cintamu,
    Selama kau memberikan cahaya padaku seperti matahari