Kategori Puisi: Kisah Sufi

  • Kisah Seorang Yang Telah

    PERGI DAN LAINNYA YANG MASIH TINGGAL.

    OLEH : DR. ALIREZA NURBAKHSH

    Kehidupan setiap orang yang lahir di dunia ini pasti akan berakhir dengan kematian.

    Sejak lahir, seseorang bergegas seperti angin menuju ketiadaan Tidak ada jalan alternatif yang bisa diambil

    Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kematian. Tanpa pemberitahuan, ia datang membawa kita ke pada kehampaan Tak seorang pun kembali dari sisi lain untuk memberi tahu kita apa yang akan terjadi

    Tak seorang pun kembali dari sisi lain dengan berita tentang apa yang terjadi, dari mana kematian berasal, atau misteri-misterinya.

    Manusia tidak tahu apa-apa tentang misteri kematian. Mereka sibuk bekerja dan sibuk mencari nafkah.

    Ketika orang yang dicintai meninggal dunia orang-orang akan berkata bahwa hidupnya singkat Mereka akan menanyakan detail tentang meninggalnya teman mereka. Pertanyaan mereka menyembunyikan ketakutan akan akhir hidup mereka sendiri.

    Mengapa kita merasa kehilangan ketika kematian tiba? Dan yang lebih mendasar lagi, mengapa kita hidup di dunia ini?

    Tiga sahabat karib selalu bersama Waktu berlalu, dan harapan mereka terpenuhi. Ketiganya adalah sahabat dan orang kepercayaan satu sama lain, dan mereka memiliki hati yang sama. Mereka merasa puas dengan kebersamaan mereka. Tiba-tiba keberuntungan berpihak pada salah satu dari mereka. Pertama, dia jatuh sakit, dan semangatnya retak. Dia menghabiskan beberapa hari dalam demam dan kelelahan. Lalu, dia meninggalkan tempat tinggalnya di bumi.

    Dua teman setia lainnya duduk di samping ranjang kematiannya, Dan meratapinya dengan kesedihan dan air mata.

    Salah satu dari keduanya menjadi marah dan meratap. Kesedihan yang dibawa kehidupan – ia tidak puas dengan nasibnya: "Lihatlah betapa kejamnya permainan kehidupan yang dimainkan terhadap kita, Membawanya pergi dari sini seperti Ini! Tidak ada gunanya datang ke dunia ini. Tidak ada gunanya kita meninggalkannya. Apa gunanya semua penderitaan dan malapetaka dalam perjalanan ini? Ujungnya adalah kematian, dan tujuannya tak diketahui.

    Kita akan menjadi debu dan berakhir sebagai bejana tanah liat. Jika kita menginginkan keabadian, kita tidak lebih dari sekedar pengemis. Kita akan menjadi debu di jalan yang dilalui orang. Siapa yang akan ada di sana untuk mengenal kita dan menanyakan kabar kita? Dia menangis tersedu-sedu sambil mengeluh tentang temannya yang telah tiada.

    Teman yang lain mendengarkan dengan baik. Karena dia juga sedang dalam kekacauan karena perpisahan dengan temannya. Dia berkata, "Saya tahu engkau sedang dalam kesedihan dan kesakitan karena kehilangan teman baik kita, seorang pria yang baik. Tapi pernahkah engkau mendengar pria baik hati itu mengeluh? Dia selalu bahagia dan puas sepanjang jalan kehidupannya. Pandangan hidupnya berbeda dari pandanganmu, dan apa yang engkau pikirkan tentang kematian.

    Suatu hari dia berbicara kepadaku tentang apa yang penting baginya, mengatakan bahwa dia telah menemukan apa yang dia cari di dunia ini. Dia berkata, 'Ketika aku jatuh pada pedang kematian hanya akan ada kegembiraan dalam lungsin dan pakan ku Aku hidup dalam persahabatan dengan sepenuh hatiku . Aku merasakan cinta dengan tubuh dan jiwaku

    Jika engkau bertanya kepada saya apakah saya ingin kembali setelah kehidupan ini? Aku ingin kembali, meski mengetahui semua masalah hidup, Aku akan menjawab ya, tentu saja, dengan penuh kerinduan dan kesenangan Selama pintu cinta dan kasih sayang masih terbuka.

    Maka hentikan ratapan ini, karena dia hidup dalam cinta. Namanya tercatat dalam kitab cinta. Mengapa harus ada ratapan?

    Itulah kematian, jika seseorang menyerahkan hidup tanpa pernah mencintai.

    Karena seorang pencinta akan merasa puas, dan akan hidup selamanya

    Alireza Nurbakhsh Banbury, 18 Oktober 2025

    Catatan: Lungsin adalah benang dasar yang dilentakkan horizontal pada alat tenun. Pakan adalah benang yang dimasukkan secara melintang kedalam benang lungsin saat melakukan penenunan.

  • Di Antara Jajaran Para Pecinta

    YANG KASMARAN Engkau pasti terpesona oleh cinta seorang wanita cantik dan menjadi seperti burung gila, terbang tinggi di angkasa karena merindukannya.

    Engkau harus mengambil piala dari tangannya dan masyuk dalam asmara dengan kekasih hatimu itu

    Orang yang berakal tidak akan pernah bisa memahami misteri cinta, Engkau harus menjadi teman bagi orang yang gila asmara sakral "Kita" dan "aku" adalah penghalang di jalannya. Engkau harus menjadi ketiadaan dan mengosongkan diri dari "aku" dan "kita".

    Melihat rambutnya bukan untuk semua orang. Engkau harus terlebih dahulu bergabung dengan para pecinta yang terbakar api asmara sakral dan menjadi gila karenanya

    Dia meminta kekasihnya segala- galanya, iman dan hati: Engkau harus mempertaruhkan hidupmu dalam cinta Nurbakhsh, dalam kegembiraan dan terbebas dari diri berkata: Kamu harus menjadi debu di bawah kaki keindahan yang bercahaya

  • Kisah Para Sufi

    CERMIN KECAMAN DIRI Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh

    “Orang yang mengetahui kesalahannya sendiri lebih dekat dengan kebenaran daripada orang yang melihat kesalahan orang lain.” – Bayazid Bastami

    Sang profesor berdiri di hadapan para mahasiswanya, suaranya tenang dan penuh pertimbangan. "Mengkritik gagasan dalam mengejar kebenaran itu satu hal," katanya, "menyalahkan, mencari kesalahan orang-orang yang memegangnya itu hal yang berbeda. Yang pertama menuntun pada pemahaman, yang kedua pada kepahitan. Kita harus melakukan yang pertama jika kita ingin tumbuh dalam kebijaksanaan, dan menjauhi yang kedua, karena itu hanya melahirkan kesombongan dan permusuhan."

    Kelas hening. lalu Margaret mengangkat tangannya. "Profesor, kebanyakan orang tidak memisahkan ide mereka dari identitas mereka. Ketika Anda mengkritik ide mereka, mereka menganggapnya sebagai kritikan yang ditujukan kepada pribadinya, kemudian membalas nya. Lalu, apa yang harus dilakukan?"

    Sang Profesor tersenyum tipis. "Menjadi manusia itu urusan yang rumit. Aku akan mengingatkan mereka bahwa aku hanya peduli pada kebenaran, bukan kepribadian mereka. Jika mereka tidak bisa membedakannya, aku akan berhenti berdebat. Tidak ada cahaya yang ditemukan dalam pertengkaran yang hanya memuaskan ego."

    Margaret mengangguk, tetapi merasa tidak yakin. la pernah mencoba ini dengan teman- temannya sebelumnya. Setiap diskusi berakhir dengan perasaan terluka dan keheningan yang panjang. Setiap kali, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ide-ide yang salah harus dilawan, bahkan dengan mengorbankan persahabatan. Namun, setelah setiap pertengkaran, rasa sakit masih terasa di dadanya—beban berat kesepian dan keraguan.

    Tahun demi tahun berlalu. Pertanyaan itu tetap tak terjawab, hingga suatu sore memberinya pelajaran tak terduga. Dia sedang mengunjungi seorang teman ketika seorang wanita tua mengetuk pintu, bertanya dengan lembut apakah dia boleh memarkir mobilnya di luar sebentar. "Sama sekali tidak!" bentak temannya. "Beraninya kau bertanya seperti itu!" Wanita itu tersenyum, tak tergoyahkan. "Maafkan aku," katanya lembut. "Aku tidak bermaksud merepotkanmu." Margaret menyaksikan dengan takjub saat wanita itu berjalan pergi dengan ketenangan yang sama anggunnya seperti saat ia datang. Rasa ingin tahu yang aneh muncul dalam dirinya. la pamit, bergegas keluar, dan menyusul orang asing itu. "Permisi," katanya, sedikit terengah- engah. "Bolehkah aku ikut denganmu dan membantumu mencari tempat parkir?" Wanita itu menoleh dengan senyum tenang. "Tentu saja."

    Mereka berjalan bersama dalam diam untuk beberapa saat. Akhirnya Margaret berkata, "Aku kagum dengan ketenanganmu. Kau tidak tampak terganggu dengan nada bicara temanku yang kasar." "Dia benar," jawab wanita itu lembut. "Aku memang mengganggunya. Kata-katanya mencerminkan perasaannya."

    "Tapi bagaimana aku bisa tetap tenang jika diperlakukan tidak adil? Ketika orang-orang berbicara seperti itu kepadaku, aku merasa terluka selama berhari-hari." Kata Margaret.

    Wanita itu menatapnya dengan tatapan lembut. "Ini buah dari latihan yang panjang," katanya. "Bertahun-tahun saya mengamati ego saya sendiri dan belajar untuk tidak menurutinya. Jika Anda ingin bertoleransi terhadap orang lain, mulailah dengan melihat diri Anda sendiri dengan jernih. Bersikaplah kritis terhadap reaksi Anda sendiri— bukan dengan amarah, tetapi dengan kesadaran. Ketika Anda belajar memaafkan kelemahan Anda sendiri, kesalahan orang lain tidak lagi Mampu menyakiti Anda."

    Mereka sampai di mobilnya. Ia menoleh ke Margaret dengan pancaran tenang yang seolah melembutkan suasana di sekitarnya. "Ketika seseorang melemparkan api kepadamu," katanya, " Engkau boleh memilih menjadi kayu kering atau air. Jika engkau memilih api, api akan melahapmu, atau api itu akan mati di dalam dirimu jika engkau memilih air. Maka Jadilah air." Wanita itu tersenyum, masuk ke mobilnya, dan melaju pergi. Sementara Margaret berdiri di sendiri di tempat itu seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang diam-diam berubah tempat.

    Malam itu, ia mendapakan dirinya tidak memikirkan kata-kata perempuan itu, melainkan kehadirannya: tenang, tanpa rasa waspada, tanpa jejak kebencian. Seolah-olah ia telah bertemu seseorang yang hidup dalam ritme waktu yang berbeda.

    Sejak hari itu, Margaret mulai mengarahkan kritiknya ke dalam dirinya sendiri dan mengamati gerak-gerik pikirannya, kejengkelan yang membumbung bagai asap, kesombongan tersembunyi yang terpendam karena merasa benar, dan sengatan penilaian yang cepat.

    Perlahan-lahan, percakapannya melunak. la mengajukan lebih banyak pertanyaan, mendengarkan lebih lama, dan mendapati dirinya melihat bukan kesalahan, melainkan kisah—luka dan harapan—di balik perkataan orang lain.

    Yang mengejutkannya, orang-orang mulai mendengarkannya juga. Ketika ia sungguh-sungguh mencoba memahami, ia mendapati bahwa keyakinannya sendiri sering kali sirna. Di ruang yang ditinggalkan, sesuatu yang bercahaya mulai muncul— kejernihan yang tenang yang lahir dari belas kasih.

    Bertahun-tahun kemudian, ketika dia sendiri menjadi profesor, dia sering mengatakan kepada para mahasiswanya: “Bersikaplah kritis, tetapi mulailah dari diri Anda sendiri. Orang yang menaklukkan ego tidak lagi berdebat untuk menang, tetapi untuk mengerti."

  • Oalandar

    "GURU MANUNGGALING JATI "

    Dahulu, ada seorang Oalandar, "dia adalah pengembara cinta dan guru Manunggaling Jati" yang tidak mempunyai kediaman, selalu mengembara

    Yang selalu bernyanyi sambil berjalan Marilah temanku, kita menjalankan cinta dengan tulus dan sepenuh hati Dan bangunlah untuk menolong sesamu dengan penuh keiklasan

    Dia mempunyai suara yang hangat Mengingatkanku kepada seorang darvish yang berkelana dimasa kecilku

    Dia membawa tas kulit dan berkelana dari tempat satu ke tempat lainnya Dia mengilhami siapa saja dengan suaranya yang penuh kasih sayang Aku berkata kepadanya, Apa yang kau nyanyikan adalah indah, tetapi Itu tentang cinta dan kasih sayang kepada sesama lainnya Dan apabila berbicara tentang mereka yang hatinya murni, Aku adalah seorang pencari kebenaran sejati Tetapi engkau berbicara hanya tentang keindahan budi pekerti dan kasih sayang yang lumintu tiada henti

    Dia menjawab, engkau tidak waras , wujud yang berakal, Ketika aku berbicara tentang cinta Aku mencari kebenaran sejati dalam wujud yang lain lainya Kebenaran sejati dari para pecinta adalah Satu Mereka melihat semuanya sebagai satu kesatuan Dan satu untuk semuanya Kemudian dia melanjutkan dengan lagunya Kita menyadari akan arti kehidupan Ketika kita membakar pamrih kita yang mementingkan diri sendiri kepada obor kebenaran dan kebajikan Dan menyerahkan cahaya diri untuk mencerahkan yang lainnya

  • Hati Yang Bergelora

    Hatiku bergelora melihat wajahnya yang cantik mempesona Hati melanggar sumpahnya sendiri akan ketenangan Aku menjadi budak cinta dan pemuja anggur dari bibirnya yang merah delima.

    Dari seruputan yang pertama, Aku terpuruk, bingung, kehilangan kesadaran, kesana kemari, dan kehilangan akal.

    Saat menjelang pagi, aromaNya tercium menyegarkan jiwaku Aku lupa tentang diriku sendiri dan segala galanya.

    Aku adalah seorang Kekasih aku tidak ada pilihan selain menanggung kekerasannya Hatiku telah berlutut dibawah pedang kepedihan cinta sejak dari mulainya waktu. Kekuatan cinta dan kegilaan menyerang hatiku Dan gelombang rambutnya adalah tentara yang membendung jalan pikiran ku.

    Senalam, pembunuh para kekasih dan pecinta- Guru kita- memberikan ceramah dalam pertemuan sebagai berikut Siapa yang berteman dengan cinta Akan dibebaskan dari kayalan dan angan angan kosong.

    Nurbakhsh dengarkan panggilan San Yang Terkasih dari setiap atom di hatimu Dan Nurbakhsh meletus seperti balon menjadi satu dengan samodra.

  • Kepastian Hati

    Sebuah Kisah tentang Keraguan dan Persahabatan Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh

    Hampir sepanjang hidupnya, Ramin tinggal di bawah atap yang kokoh. Atap itu dibangun dari kepastian. Kepastian keyakinan, Kepastian penilaian, Kepastian arah.

    Setiap pagi, ia bangun dengan mengetahui di mana posisinya dan ke mana tujuannya. Dunia terasa teratur. Tanah di bawah kakinya terasa kokoh. Bahkan keraguannya, ketika muncul, terkendali dengan rapi.

    Kemudian ia bertemu dengan Joseph, dan retakan kecil muncul di atap. Joseph tidak bersuara keras, dan ia juga tidak berdebat dengan penuh semangat. la mengajukan pertanyaan lalu menunggu. la banyak membaca, sedikit berbicara, dan tampak tidak terganggu oleh ketidaktahuannya. Jika Ramin memberikan jawaban, Joseph memberikan jeda.

    Awalnya, Ramin merasa hal ini meresahkan tetapi tidak berbahaya. Seiring waktu, retakan itu semakin melebar.

    Selama berjalan-jalan panjang dan percakapan santai, Joseph berbicara tentang pikiran—bukan sebagai jendela menuju kebenaran, tetapi sebagai alat untuk bertahan hidup. Dia menunjukkan hal-hal kecil: bagaimana objek yang jauh tampak lebih dekat daripada sebenarnya, bagaimana rasa takut mempertajam persepsi bahkan ketika bahaya tidak ada.

    Dia berhenti di jalan setapak. "Indera kita melebih-lebihkan," katanya. "Indera melindungi kita. Indera tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi."

    Malam itu, sambil terjaga, Ramin merasakan sesuatu yang asing—pusing samar, seolah-olah tanah di bawahnya telah bergeser. Tidak ada yang berubah, namun tidak ada yang terasa sepenuhnya kokoh.

    Beberapa minggu berlalu. Joseph berbicara lebih sedikit, tetapi keheningan lebih berpengaruh daripada kata-kata. Ramin mulai memperhatikan betapa cepatnya pikirannya menuju kesimpulan, betapa mudahnya pikirannya mengisi kekosongan dengan kepastian.

    Keyakinan muncul secara otomatis, seperti tarikan napas. Suatu malam, Joseph berkata, "Kau tak pernah keluar dari pikiranmu. Semua yang kau ketahui datang sudah terbentuk." Atapnya berderit. Ramin merasakan keraguan bukan sebagai sebuah ide, melainkan sebagai sebuah sensasi—rasa sesak di dada, kekosongan yang tenang tepat di bawah tulang rusuk. Kemudian, Joseph berbicara tentang benar dan salah—bukan dengan nada meremehkan, tetapi dengan lembut. Ia menyarankan bahwa nilai-nilai adalah kesepakatan, bukan absolut: bahwa dunia itu sendiri tidak mengeluarkan perintah apa pun. "Dunia ini bungkam," katanya. "Kitalah yang berbicara ke dalamnya."

    Malam itu, atapnya runtuh. Ramin mendapati dirinya berdiri di udara terbuka. Tanpa tempat berlindung. Tanpa pijakan yang terasa aman. Dia mempertanyakan segalanya— keyakinan, pengetahuan, kewajiban— tetapi setiap jawaban lenyap segera setelah terbentuk. Dia mencoba hidup seperti ini, waspada dan skeptis, tetapi usaha itu membuatnya kelelahan. Dia meleset dari atap. la mencari sesuatu yang nyata —buku, diskusi, belajar disiplin ilmu tertentu— tetapi hanya menemukan lebih banyak pertanyaan.

    Akhirnya, ia beralih ke anggur, salah mengira , dikira anggur bisa melupakan sebagai kelegaan. Awalnya anggur menghangatkan tubuhnya. Kemudian meredam kebisingan. Akhirnya, anggur menggantikan pikiran sepenuhnya. Joseph memperhatikan. "Ini bukan tempat berlindung," katanya suatu kali sambil menyentuh kaca. "Ini hanya tempat untuk melupakan." Ramin tersenyum tipis. "Melupakan saja sudah cukup." Bukan?

    Suatu malam musim dingin, dingin yang menusuk dan tak kenal ampun, Ramin pingsan di jalan. Ketika ia terbangun, langit-langit di atasnya berwarna putih dan berdengung. Seorang dokter berbicara dengan lembut, tanpa emosi. Hatinya telah gagal berfungsi. Waktu telah menyempit. Joseph datang. "Kau datang," kata Ramin. Suaranya terdengar datar. "Tidak ada orang lain yang datang." Joseph duduk di sampingnya. "Aku di SINI." Ramin mengamatinya. "Kau meragukan segalanya," katanya. "Mengapa ini?" Joseph tidak langsung menjawab. Dia meletakkan tangannya di pagar tempat tidur dan menatap Ramin—bukan sebagai masalah, bukan sebagai pertanyaan. "Untuk hal-hal tertentu dalam hidup, kau tak butuh alasan," kata Joseph pelan. "Kau merasakannya sebelum memahaminya. Persahabatan adalah salah satunya. Cinta adalah yang lainnya."

    Ramin merasakan kehangatan menjalar di dadanya—tak terduga, stabil. Bukan kelegaan. Bukan harapan. Sesuatu yang lebih tenang. "Kau telah merampas kepastianku," bisik Ramin. "Namun ini tetap ada." "Saya mempertanyakan atapnya," kata Joseph. "Bukan apa yang ada di bawahnya." Ramin mengulurkan tangannya. Tangannya gemetar. Joseph meraihnya tanpa ragu-ragu. Dunia tidak kembali pada maknanya. Kebenaran tidak menjadi jelas. Kematian tidak mundur.

    Namun dalam keheningan di antara mereka, sesuatu tetap teguh. Dan Ramin memahaminya bukan dengan pikirannya, yang tidak lagi mampu memegang kepastian, tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam bahwa ketika setiap keyakinan lenyap, kehadiran tetap ada.

    Beberapa kepastian tidak dapat dibangun. Kepastian itu hanya dapat disentuh.

    Alireza Nurbakhsh, London, 18 Desember 2025 Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari naskah aslinya dalam bahasa Inggris.

  • Cerita Tentang Seorang Laki Laki

    YANG BURUK SIFAT DAN PERANGAINYA DAN GURU ROHANI YANG BERWAWASAN DAN MUMPUNI

    Pada suatu ketika, ada seorang yang sangat mementingkan diri sendiri, tidak punya teman dan hidup dalam kesepian

    Kelakuan buruk adalah cara hidupnya dan wataknya

    la tidak melihat apapun kecuali keburukan la tidak mempunyai rasa cinta dan kasih sayang maupun persahabatan

    la hanya melihat segala sesuatu dari ukuran ketidak baikkan Pada siapa saja yang pernah bertemu dengan dia Orang orang akan lari dari dia secepat angin Dan hanya mempunyai kesan yang tidak baik tentangnya

    Dia terperangkap sendirian dalam penjara yang dibuatnya sendiri selama beberapa tahun lamanya Dan merasa sangat sedih serta merasa tidak berguna

    Hingga pada suatu hari dia berkata pada dirinya sendiri, Mementingkan diri sendiri adalah bukan tujuan hidup ini: lalu apa tujuan hidupku ini?.

    "Aku harus menapak mengikuti arah jalan keruhanian ", akhirnya dia berkata pada dirinya sendiri

    "Aku harus menemukan satu jalan keruhanian yang menuju kepada kebenaran sejati dan menjadikan ku seorang yang tulus Apa gunanya hidup apabila tiada harganya, Selalu terperangkap dalam kelalain dan kepentingan diri sendiri"?!

    Kemudian dia mulai mencari jalan kebenaran sejati dan menjajagi jalan keruhanian

    Lelaki yang memusatkan dirinya sendiri itu mengemban tekat Untuk mencari guru ruhaninya

    Akhirnya seorang guru ruhani yang berwawasan dan mumpuni bersimpangan di jalannya Dan melihat kesedihan yang disandang lelaki itu sebagai akibat dari sifat yang memusatkan pada dirinya sendiri

    "Aku merasa sangat terganggu hanya dengan melihatmu!. Guru ruhani itu berkata kepada lelaki itu. "Engkau tidak melihat siapapun tetapi hanya dirimu sendiri , engkau tidak sadar, pasti engkau sedang tidur ". "Apakah engkau menginginkan untuk terbebaskan dari dirimu sendiri Dan untuk dihidupkan kembali dalam air kehidupan ?" Lelaki yang bersifat buruk dan yang gila pada dirinya sendiri itu menjawab, " Katakanlah kepadaku, bagaimana engkau bisa mengetaui perasaanku?"

    "Keadaan batinmu kelihatan sangat nyata ", jawab Sang guru ruhani itu. "Aku membaca nafsumu seperti sebuah buku yang terbuka

    Aku tau bagaimana mengobati kepedihanmu Namun akan sulit untukmu, walaupun engkau menginginkan penyembuhan itu

    Obatnya adalah mencintai yang lain, Tapi engkau tidak akan bisa, karena selama ini, nomer satu yang engkau cintai adalah dirimu sendiri

    Bagaimana mungkin engkau akan bisa memberikan hatimu kepada seorang manusia Apabila yang engkau lihat hanya kejahatan dan kebodohannya

    Untuk belajar di jalan hati dan cinta Engkau harus bepergian jauh tanpa batas dari dunia debu

    Terimalah cinta tanpa prasangka: Jika seekor anjing memberikan cinta, Balaslah persahabatannya

    Sebaiknya, carilah seekor anjing sebagai teman Saling menemani dan menjadi satu hati

    Anjing itu akan mengajarimu cinta yang tanpa pamrih Yang akan merupakan bekal pada jalanmu dimasa depan

    Dengan mengetahui bawha cinta seekor anjing itu tanpa mengharapkan imbalan dan balasan apapun Tidak seperti manasia, yang mana cinta itu kadang hanya sebuah pertukaran belaka

    Disaat engkau bisa memahami apa dan bagaimana cinta itu dari seekor anjing Maka engkau akan bisa menghidupkan jiwamu sendiri dengan cinta pada sesama manusia

    Cintailah dan berbagi kasih sayang sebanyak mungkin kepada yang lain Belajarlah rendah hati dan welas asih Belajarlah untuk meninggalkan keberadaan jati dirimu sendiri

    Mencintai adalah dasar utama kehidupan Hidup tanpa teman, seperti kematian Pilihlah persahabatan, dalam hidup yang pendek masanya ini Karena cinta yang meneranngi hati melimpahkan cahaya kehidupan

  • Manusia Seutuhnya 241003 160500

    Musim Gugur telah tiba, Bunga bunga Mawar di kebun kita melepaskan kelopaknya satu demi satu,

    Kelopak kelopak bunga jatuh ke tanah.

    Hari berikutnya, penjaga kebun bunga memotong ranting dan cabangnya, Dan ditumpuk diletakan diatas kelopak kelopak bunga yang jatuh.

    Semua bagain dari bunga Mawar terhampar di atas tanah, Sehingga bukan lagi sebuah kebun.bunga.

    Keseluruhan selalu lebih besar dari pada jumlah bagiannya.

    Begitu juga dengan manusia, Ketika dipangkas kebahagian dan cintanya, Seakan akan seperti badai angin ribut yang mencabik cabik badan seseorang dan melemparkan cabikan cabikan itu dengan sembarangan. Sayang sekali, bukan lagi manusia seutuhnya.

    Mempunyai telinga, mulut, hidung dan kaki tidak Sepenuhnya menjadikan manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya adalah seseorang yang hatinya dipenuhi akan kehangatan cinta dan suka cita.

  • Mengenang Kekasih Yang Tiada Taranya

    Apakah engkau tau bahwa tanpamu aku tidak mempunyai berita baru Tidak ada api dalam hatiku, tidak ada semangat dan tidak ada kemauan

    Hatiku yang sedang kasmaran sudah tidak terhitung banyaknya berkata tentang cinta: Tetapi semua kata kata adalah milikmu, Aku tidak mempunyai keahlian maupun kepasihan.

    Dengan engkau disampingku, aku menepakkan sayapku dan terbang menuju ke kaisaran Tanpamu Duh' Sagi' penyaji anggur dihatiku, Aku tidak mempunyai bulu dan tidak mempunyai sayap

    Buah cintamu adalah manis gula dan manisan segala buah sajian para dewa (ambrosia) untuk jiwaku: Tanpamu aku tidak menghasilkan buah dikebun cinta dan kasih sayang

    Kekasihmu-Tatapan yang membinasakan- yang membawa cahaya di mata hatiku, Tanpa cahaya dari matamu aku tidak mempunyai penglihatan

    Aku dulunya api, dan abuku telah diberikan kepada angin Engkau telah menetap tinggal dalam hatiku dan sekarang tidak ada yang tersisa tentang keberadaanku

    Engkau berkata " Oh, engkau telah menjadi cahaya lilin yang menerangi semua hati !" Aku tidak mempunyai keberhasilan untuk diriku sendiri: Engkaulah yang menganugrahkan cahaya dalam jiwaku, Alireza Nurbakhsh London, 10 Desember 2024

  • Sang Ahli Gaib Guru Majus

    Sang Ahli gaib guru Majus menyantapku dalam apinya hingga aku terbakar sepenuhnya. Sehingga aku tidak sadar akan diriku sendiri Dan tidak tau apapun kecuali Cinta

    Kekasihku tercinta berkata kepadaku tentang Kecantikan Pemberian Tuhan Sehingga cinta menjadi suasana batinku dan semua yang aku ucapkan.

    Pendakwah agama berbicara hanya tentang kemarahan Tuhan, Karena hanya sifat inilah yang dapat mereka lihat, Aku kehilangan hatiku, Aku hanya membaca buku tentang keanggunannya.

    Sejak dari pertama saat aku melihat mata bunga Narsisnya yang memabukan Aku membuat sumpah pengabdian Dan itu tercetak dalam jiwaku

    Sagi Sang Penyaji anggur, pergi ke bejana tempat penyimpanan anggur Dan memanggilku untuk berada disebelahnya Seluruh jiwaku dan seluruh ragaku dipadamkan oleh cinta.

    Di dalam kedai asmara, aku pasrahkan diriku kepada Kekasihku yang penuh kebajikan Dia melucuti segala galanya yang ada padaku Dengan panah dari matanya

    Aku menghabiskan hidupku sebagai abdi Sang Ahli Gaib Guru Majus, Beliau menganugrahkan Cahaya kepadaku di candi api hatiku.