Kisah Seorang Yang Telah

Written by

in

Kisah Sufi

PERGI DAN LAINNYA YANG MASIH TINGGAL.

OLEH : DR. ALIREZA NURBAKHSH

Kehidupan setiap orang yang lahir di dunia ini pasti akan berakhir dengan kematian.

Sejak lahir, seseorang bergegas seperti angin menuju ketiadaan Tidak ada jalan alternatif yang bisa diambil

Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kematian. Tanpa pemberitahuan, ia datang membawa kita ke pada kehampaan Tak seorang pun kembali dari sisi lain untuk memberi tahu kita apa yang akan terjadi

Tak seorang pun kembali dari sisi lain dengan berita tentang apa yang terjadi, dari mana kematian berasal, atau misteri-misterinya.

Manusia tidak tahu apa-apa tentang misteri kematian. Mereka sibuk bekerja dan sibuk mencari nafkah.

Ketika orang yang dicintai meninggal dunia orang-orang akan berkata bahwa hidupnya singkat Mereka akan menanyakan detail tentang meninggalnya teman mereka. Pertanyaan mereka menyembunyikan ketakutan akan akhir hidup mereka sendiri.

Mengapa kita merasa kehilangan ketika kematian tiba? Dan yang lebih mendasar lagi, mengapa kita hidup di dunia ini?

Tiga sahabat karib selalu bersama Waktu berlalu, dan harapan mereka terpenuhi. Ketiganya adalah sahabat dan orang kepercayaan satu sama lain, dan mereka memiliki hati yang sama. Mereka merasa puas dengan kebersamaan mereka. Tiba-tiba keberuntungan berpihak pada salah satu dari mereka. Pertama, dia jatuh sakit, dan semangatnya retak. Dia menghabiskan beberapa hari dalam demam dan kelelahan. Lalu, dia meninggalkan tempat tinggalnya di bumi.

Dua teman setia lainnya duduk di samping ranjang kematiannya, Dan meratapinya dengan kesedihan dan air mata.

Salah satu dari keduanya menjadi marah dan meratap. Kesedihan yang dibawa kehidupan – ia tidak puas dengan nasibnya: "Lihatlah betapa kejamnya permainan kehidupan yang dimainkan terhadap kita, Membawanya pergi dari sini seperti Ini! Tidak ada gunanya datang ke dunia ini. Tidak ada gunanya kita meninggalkannya. Apa gunanya semua penderitaan dan malapetaka dalam perjalanan ini? Ujungnya adalah kematian, dan tujuannya tak diketahui.

Kita akan menjadi debu dan berakhir sebagai bejana tanah liat. Jika kita menginginkan keabadian, kita tidak lebih dari sekedar pengemis. Kita akan menjadi debu di jalan yang dilalui orang. Siapa yang akan ada di sana untuk mengenal kita dan menanyakan kabar kita? Dia menangis tersedu-sedu sambil mengeluh tentang temannya yang telah tiada.

Teman yang lain mendengarkan dengan baik. Karena dia juga sedang dalam kekacauan karena perpisahan dengan temannya. Dia berkata, "Saya tahu engkau sedang dalam kesedihan dan kesakitan karena kehilangan teman baik kita, seorang pria yang baik. Tapi pernahkah engkau mendengar pria baik hati itu mengeluh? Dia selalu bahagia dan puas sepanjang jalan kehidupannya. Pandangan hidupnya berbeda dari pandanganmu, dan apa yang engkau pikirkan tentang kematian.

Suatu hari dia berbicara kepadaku tentang apa yang penting baginya, mengatakan bahwa dia telah menemukan apa yang dia cari di dunia ini. Dia berkata, 'Ketika aku jatuh pada pedang kematian hanya akan ada kegembiraan dalam lungsin dan pakan ku Aku hidup dalam persahabatan dengan sepenuh hatiku . Aku merasakan cinta dengan tubuh dan jiwaku

Jika engkau bertanya kepada saya apakah saya ingin kembali setelah kehidupan ini? Aku ingin kembali, meski mengetahui semua masalah hidup, Aku akan menjawab ya, tentu saja, dengan penuh kerinduan dan kesenangan Selama pintu cinta dan kasih sayang masih terbuka.

Maka hentikan ratapan ini, karena dia hidup dalam cinta. Namanya tercatat dalam kitab cinta. Mengapa harus ada ratapan?

Itulah kematian, jika seseorang menyerahkan hidup tanpa pernah mencintai.

Karena seorang pencinta akan merasa puas, dan akan hidup selamanya

Alireza Nurbakhsh Banbury, 18 Oktober 2025

Catatan: Lungsin adalah benang dasar yang dilentakkan horizontal pada alat tenun. Pakan adalah benang yang dimasukkan secara melintang kedalam benang lungsin saat melakukan penenunan.