Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh — London, 7 November 2025
Sang profesor berdiri di hadapan para mahasiswanya, suaranya tenang dan penuh pertimbangan. “Mengkritik gagasan dalam mengejar kebenaran itu satu hal,” katanya, “menyalahkan; mencari kesalahan orang-orang yang memegangnya itu hal yang berbeda. Yang pertama menuntun pada pemahaman, yang kedua pada kepahitan. Kita harus melakukan yang pertama jika kita ingin tumbuh dalam kebijaksanaan, dan menjauhi yang kedua, karena itu hanya melahirkan kesombongan dan permusuhan.”
Kelas hening. Lalu Margaret mengangkat tangannya. “Profesor, kebanyakan orang tidak memisahkan ide mereka dari identitas mereka. Ketika Anda mengkritik ide mereka, mereka menganggapnya sebagai kritikan yang ditujukan kepada pribadinya, kemudian membalasnya. Lalu, apa yang harus dilakukan?”
Sang Profesor tersenyum tipis. “Menjadi manusia itu urusan yang rumit. Aku akan mengingatkan mereka bahwa aku hanya peduli pada kebenaran, bukan kepribadian mereka. Jika mereka tidak bisa membedakannya, aku akan berhenti berdebat. Tidak ada cahaya yang ditemukan dalam pertengkaran yang hanya memuaskan ego.”
Margaret mengangguk, tetapi merasa tidak yakin. Ia pernah mencoba ini dengan teman-temannya sebelumnya. Setiap diskusi berakhir dengan perasaan terluka dan keheningan yang panjang. Setiap kali, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ide-ide yang salah harus dilawan, bahkan dengan mengorbankan persahabatan. Namun, setelah setiap pertengkaran, rasa sakit masih terasa di dadanya — beban berat kesepian dan keraguan.
Tahun demi tahun berlalu. Pertanyaan itu tetap tak terjawab, hingga suatu sore memberinya pelajaran tak terduga. Dia sedang mengunjungi seorang teman ketika seorang wanita tua mengetuk pintu, bertanya dengan lembut apakah dia boleh memarkir mobilnya di luar sebentar. “Sama sekali tidak!” bentak temannya. “Beraninya kau bertanya seperti itu!” Wanita itu tersenyum, tak tergoyahkan. “Maafkan aku,” katanya lembut. “Aku tidak bermaksud merepotkanmu.”
Margaret menyaksikan dengan takjub saat wanita itu berjalan pergi dengan ketenangan yang sama anggunnya seperti saat ia datang. Rasa ingin tahu yang aneh muncul dalam dirinya. Ia pamit, bergegas keluar, dan menyusul orang asing itu. “Permisi,” katanya, sedikit terengah-engah. “Bolehkah aku ikut denganmu dan membantumu mencari tempat parkir?” Wanita itu menoleh dengan senyum tenang. “Tentu saja.”
Mereka berjalan bersama dalam diam untuk beberapa saat. Akhirnya Margaret berkata, “Aku kagum dengan ketenanganmu. Kau tidak tampak terganggu dengan nada bicara temanku yang kasar.” “Dia benar,” jawab wanita itu lembut. “Aku memang mengganggunya. Kata-katanya mencerminkan perasaannya.”
“Tapi bagaimana aku bisa tetap tenang jika diperlakukan tidak adil? Ketika orang-orang berbicara seperti itu kepadaku, aku merasa terluka selama berhari-hari.” kata Margaret.
Wanita itu menatapnya dengan tatapan lembut. “Ini buah dari latihan yang panjang,” katanya. “Bertahun-tahun saya mengamati ego saya sendiri dan belajar untuk tidak menurutinya. Jika Anda ingin bertoleransi terhadap orang lain, mulailah dengan melihat diri Anda sendiri dengan jernih. Bersikaplah kritis terhadap reaksi Anda sendiri — bukan dengan amarah, tetapi dengan kesadaran. Ketika Anda belajar memaafkan kelemahan Anda sendiri, kesalahan orang lain tidak lagi mampu menyakiti Anda.”
Mereka sampai di mobilnya. Ia menoleh ke Margaret dengan pancaran tenang yang seolah melembutkan suasana di sekitarnya. “Ketika seseorang melemparkan api kepadamu,” katanya, “Engkau boleh memilih menjadi kayu kering atau air. Jika engkau memilih api, api akan melahapmu, atau api itu akan mati di dalam dirimu jika engkau memilih air. Maka jadilah air.” Wanita itu tersenyum, masuk ke mobilnya, dan melaju pergi.
Malam itu, ia mendapakan dirinya tidak memikirkan kata-kata perempuan itu, melainkan kehadirannya: tenang, tanpa rasa waspada, tanpa jejak kebencian. Seolah-olah ia telah bertemu seseorang yang hidup dalam ritme waktu yang berbeda.
Sejak hari itu, Margaret mulai mengarahkan kritiknya ke dalam dirinya sendiri dan mengamati gerak-gerik pikirannya, kejengkelan yang membumbung bagai asap, kesombongan tersembunyi yang terpendam karena merasa benar, dan sengatan penilaian yang cepat.
Perlahan-lahan, percakapannya melunak. Ia mengajukan lebih banyak pertanyaan, mendengarkan lebih lama, dan mendapati dirinya melihat bukan kesalahan, melainkan kisah — luka dan harapan — di balik perkataan orang lain.
Yang mengejutkannya, orang-orang mulai mendengarkannya juga. Ketika ia sungguh-sungguh mencoba memahami, ia mendapati bahwa keyakinannya sendiri sering kali sirna. Di ruang yang ditinggalkan, sesuatu yang bercahaya mulai muncul — kejernihan yang tenang yang lahir dari belas kasih.
Bertahun-tahun kemudian, ketika dia sendiri menjadi profesor, dia sering mengatakan kepada para mahasiswanya: “Bersikaplah kritis, tetapi mulailah dari diri Anda sendiri. Orang yang menaklukkan ego tidak lagi berdebat untuk menang, tetapi untuk mengerti.”


