Kisah Pertemuan Seorang Yang Penuh

Written by

in

Kisah Sufi

KERAGUAN DENGAN SEORANG KEKASIH DAN SANG YANG TERKASIH

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang yang sedang sakit cinta Yang melimpah dalam cinta dan pengabdian Dan tidak pernah menemui bencana maupun perselisihan

la mengosongkan tentang jati dirinya Dan seluruh hidupnya sepenuhnya terisi hanya oleh Sang Yang Kekasih Tercinta Mengingat dan menyebutkan namaNya terus menerus

Dia asing terhadap wacana alasan dan agama Cinta Sang Yang Kekasih kepadanya Telah merupakan zat keyakinannya

Ketidak hadiran akan jati dirinya sendiri adalah merupakan pokok dasar mencintai: Hilang musnah, menyatu dengan Sang Yang Kekasih dan mencintai dengan tulus iklas

Pada suatu hari, seorang cendekiawan yang penuh keyakinan akan ilmunya Tiba dari tanah asing

Cendekiawan ini telah belajar tentang kearifan dari seorang guru yang ahli Dan ia mencoba mencerahkan jiwanya sendiri dengan cahaya kearifan

la menoleh kedalam dirinya sendiri Dan merenung dalam – dalam Merenungkan tentang dunia keberadaan adalah menjadi pekerjaannya

Dia sadar akan dirinya sendiri Bahwa dia mengamati jiwanya sendiri dengan penuh ketelitian Seperti seorang dokter jiwa Pada suatu hari, ia bertemu Seorang Kekasih yang sedang sakit asmara Yang luruh punah jati dirinya, dilanda cinta, dan jiwa yang kebingungan

Si cendekiawan bertanya kepada pecinta, mengapa dia kelihatnnya sangat kacau. "Mengapa engkau tidak sadar akan dirimu se diri dan sepertinya engkau dalam kebingungan?", ia bertanya.

"O' teman, Tidak ada apapun pada diriku ini Kecuali Kekasih yang Tercinta ", jawab si pecinta itu

"Kemanapun aku melihat, yang tampak hanyalah Sang Yang Kekasih Tercinta Aku mabuk tergila-gila dilanda cinta ini.

Cendekiawan menjawab " Itu adalah jalan ketergantungan Dan sebuah pendekatan pada keremajaan yang belum matang"

"Kekasihmu sekarang masih hidup, Namun, saat dia meninggal dunia, Hatimu akan terendam dalam darah

Engkau akan menanggung kesepian dan kepedihan, kata cendekiawan itu Dan menanyakan" Dimana kekasihmu ?"

Engkau membuang waktumu, lebih baik pergilah mencari ilmu pengetauan yang berguna untuk hidup, lanjut cendekiawan itu.

Cinta tidak membawa apapun, tetapi hanya sakit kepala dan kesedihan belaka Pendeknya, orang yang engkau cintai akan merampok hidupmu

Hiasilah hidupmu dengan kebijaksanaan Yang akan membersihkan dan menjernihkan pikiranmu

Hilangnya jati dirimu dalam cinta adalah ketidakberdayaan Dan ketiadaan akan dirimu adalah mati yang mendadak", Cendekiawan itu melanjutkan petuahnya

Mengetaui cendikiawan itu berkotbah tanpa henti, Sang Pecinta minta maaf dan berkata bahwa ia harus pergi segera

"Sang Yang Kekasihku Tercinta baru saja meninggalkan rumah, Aku harus berburu- buru pulang Aku telah bertaruh hati dan jiwaku untuk cinta

Kata kata dan pembicaraan adalah kosong seperti angin Pecinta adalah seseorang yang telah melemparkan jiwa dan raganya kedalam api cinta", kata yang Pecinta.

Cendikiawan berkata "Dimana sekarang Kekasihmu itu? Tuhan menjadi saksiku bahwa Betapa aku ingin bertemu dengan kekasihmu

Maksud cendekiawan itu adalah untuk memberikan petuah kepada kekasihnya pecinta Tentang pokok pokok kearifan yang tinggi Disertai alasan dan penjabaran tentang kedua-duanya, baik yang tersembunyi Maupun yang kasat mata

Pecinta menjawab, "Kalau begitu, Ikutilah aku kesana Dan tunggulah hingga engkau dipanggil"

Pecinta dan cendikiawan alhi pemikir itu berjalan tergesa gesa seperti orang gila, Melalui bentangan daratan yang kering menuju tempat dimana Sang Yang Kekasih itu bersemayam

Malam tiba, saatnya untuk istirahat dan tidur, Cendikiawan itu langsung memilih tempat untuk menggeletakkan kepalanya

Menatap kelangit, ia melihat bintang yang lebih bersinar dari bintang yang lainnya

Tiba tiba dia melihat gambaran ibunya, Bintang itu mirip seperti wajah ibunya

Mengingat ibunya dipadang pasir membuatnya bersedih Kenangan akan cinta ibunya memberinya kepedihan

Saat menjelang pagi, kedua orang tersebut melanjutkan perjalanannya Menuju ke kota dimana Sang Yang Kekasih itu berdiam

Akhirnya mereka tiba ditujuan, Dan Sang Yang Kekasih muncul dipintu "Siapa yang menemanimu wahai temanku terkasih ?", Sang Kekasih bertanya

"Dia seorang cendekiawan dari tanah seberang", Jawab pecinta itu

Pecinta itu bertekuk lutut bersujud dan mencium kaki Sang Yang Terkasih

Orang yang penuh kearifan itu pelan merayap kesudut dengan penuh kebingungan

" Tentang apa sebenarnya semua yang kau bicarakan ?" Suatu kali yang pecinta bertanya kepada cendikiawan Namun lelaki pemikir itu menjawab " Pertama tama, terangkanlah siapa dirimu ". Sang pecinta menunjuk keatas "Apa yang engau lihat dilangit saat itu ?"

"Engkau melihat ibumu pada sebuah bintang dan kenangan akan cintanya membuatmu sedih?".

Si pemikir itu mulai gemetar dalam kebingungan la kehilangan akal sehatnya dan menangis tersedu-sedu

"Itu adalah rahasia !" Kata cendekiawan itu "Bagaimana engkau tau apa yang dipikirkan oleh orang lain?"

Aku tidak mengatakan kepada siapapun tentang hal itu, dan tidak seorangpun pernah mendengar dari ku sendiri?"

"Apa yang muncul dalam pikiran orang yang punya akal Bukanlah suatu rahasia bagi orang yang punya hati", jawab sang pecinta

"Pergi dan belajarlah tentang rahasia cinta, Anak Muda Karena kepandaian akalmu akan membuatmu selalu ragu-ragu Apa yang ada didalam cinta, terbaring terbuka untuk kita

Dan hatimu akan menyimpan beberapa rahasia

Pengetauan seorang Kekasih adalah tidak terbatas Bagaimana mungkin akal bisa mencapai pengetauan yang tinggi tidak terbatas?"

Mendengarkan kata kata tersebut, cendekiawan itu semakin kagum " Cinta adalah Rahasia Gaib purbakala". "Aku tidak tau Rahasia Gaib cinta Tuhan ini Aku tidak melihat cinta itu, maupun kesucian dalam diriku

Walaupun aku mengikuti jalan akal dan pemikiran, Mulai saat ini, aku tidak akan merendahkan kekuatan cinta lagi"

Setelah berkata begitu, cendekiawan itu mencium kaki Sang Kekasih Dan pulang kembali kerumah dan kenegaranya

Mengetaui bahwa Cinta adalah Pemberi Cahaya kepada kita Tanpa Cinta didalam jiwamu, engkau tidak akan pernah tau siapa dirimu yang sejati